Surabaya, Tagarjatim.id — Aksi damai digelar di depan Gedung Grahadi, Surabaya, Rabu (8/7/2026). Kegiatan yang berlangsung selama kurang lebih dua jam tersebut diikuti oleh sejumlah elemen masyarakat, mulai dari relawan, petani, pelaku UMKM, hingga mitra program dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Mereka mendesak pemerintah agar program MBG kembali berjalan setelah dihentikan sementara selama masa libur sekolah.
Dalam aksi tersebut, para peserta yang mayoritas perempuan membawa sejumlah sayuran untuk dibagikan kepada pengguna jalan. Aksi simbolis itu dilakukan sebagai bentuk keprihatinan atas turunnya harga komoditas pertanian sejak program MBG dihentikan.

“Kami sengaja membawa sayur untuk dibagikan kepada masyarakat. Sejak program MBG dihentikan, harga sayuran turun sehingga petani ikut dirugikan,” ujar salah satu peserta aksi saat menyampaikan orasi.

Aksi serupa disebut digelar secara serentak di berbagai daerah di Indonesia. Mereka meminta pemerintah segera melanjutkan program MBG karena dinilai memberikan manfaat besar bagi perkembangan dan kecerdasan para siswa.

“Dengan adanya MBG, sudah terbukti banyak siswa yang semakin cerdas. Program ini sangat bermanfaat bagi generasi bangsa,” katanya.

Selain meminta program dilanjutkan, massa juga mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) mencabut Surat Edaran Nomor 12 Tahun 2026 tentang penyesuaian operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selama masa libur sekolah.

Menurut mereka, penghentian layanan MBG sekaligus ditiadakannya insentif operasional SPPG selama masa liburan berdampak besar terhadap keberlangsungan usaha para mitra dapur.

“Kebijakan penghentian layanan MBG dan tidak adanya insentif operasional SPPG sangat merugikan. Hal ini berpotensi menimbulkan penolakan dari berbagai asosiasi dan kelompok dapur mitra,” tegas peserta aksi.

Massa juga menilai penghentian program MBG dapat memicu munculnya pengangguran baru karena banyak tenaga kerja yang bergantung pada keberlangsungan program tersebut.

“Jangan programnya yang dihentikan, tetapi regulasinya yang harus diperbarui,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua HKTI Kabupaten Malang, H Makhrus Sholeh, menyebut penghentian sementara MBG telah berdampak terhadap sektor pertanian dan peternakan, terutama para pemasok bahan pangan yang menjadi mitra program.

Ia mencontohkan, harga sejumlah komoditas mengalami penurunan setelah program MBG dihentikan.

“Harga telur saat ada MBG sekitar Rp25 ribu per kilogram, sekarang turun menjadi Rp18 ribu per kilogram. Sawi yang sebelumnya sekitar Rp15 ribu, sekarang tinggal Rp3 ribu setelah MBG berhenti. Petani sangat terdampak,” ujarnya.

Makhrus berharap BGN membuka ruang komunikasi lebih luas dengan para mitra agar ada kejelasan terkait keberlanjutan program MBG.

“Kami berharap pihak BGN lebih terbuka untuk membahas kelanjutan program ini,” pungkasnya.

Para peserta aksi berharap pemerintah dapat membuka ruang dialog dengan mitra MBG agar dapat mencari solusi terbaik dan memastikan keberlangsungan ekonomi masyarakat yang terdampak. (*)

iklan ucapan selamat hari bhayangkara dari tagarjatim.id
WhatsApp Image 2026-07-01 at 13.22.33