Kota Batu, Tagarjatim.id – Dinas Pendidikan Kota Batu memastikan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 fokus pada pembentukan karakter peserta didik baru. Mengusung konsep SAE, langkah ini berjalan selaras dengan visi pembangunan daerah, yakni mBatu SAE (Sinergis, Akomodatif, dan Ekologis).
Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Alfi Nurhidayat, menegaskan bahwa MPLS harus menjadi momentum awal untuk membangun fondasi karakter siswa, bukan sekadar agenda seremonial tahunan atau bahkan wadah perpeloncoan.
Dalam konteks pengenalan sekolah, konsep SAE tidak hanya dimaknai sebagai kata “bagus” dalam bahasa Jawa, melainkan juga sebuah akronim nilai inti yang wajib diterapkan selama MPLS, yaitu Santun, Aktif, dan Edukatif.
“Pelaksanaan MPLS di Kota Batu harus benar-benar menjadi momentum membangun fondasi karakter peserta didik baru. Kami ingin kegiatan ini berdampak positif, menyenangkan, sekaligus jauh dari praktik-praktik yang tidak mendidik,” ujar Alfi saat dikonfirmasi, Kamis (2/7/2026).
Alfi memerinci, nilai Santun diwujudkan lewat pembiasaan etika, sopan santun, penghormatan kepada guru dan orang tua, serta penguatan budaya saling menghargai. Sementara nilai Aktif diarahkan agar siswa berani mengenali potensi diri, aktif bertanya, serta antusias mengenal organisasi dan ekstrakurikuler sejak dini.
Adapun nilai Edukatif, kata Alfi, menjadi ruh utama dari seluruh rangkaian kegiatan. Setiap materi maupun permainan yang disajikan harus memiliki esensi pembelajaran yang jelas tanpa menyisipkan unsur intimidasi.
“Kami menegaskan tidak boleh ada aktivitas yang mempermalukan siswa. Semua kegiatan harus memiliki nilai pendidikan dan mampu menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik,” tegasnya.
Di samping penguatan karakter tradisional, Disdik Kota Batu juga mendorong sekolah menyisipkan materi modern yang relevan dengan tantangan zaman. Salah satunya adalah pengenalan literasi digital, edukasi pencegahan cyberbullying, hingga pemanfaatan platform pembelajaran digital sekolah secara bijak.
“Anak-anak sekarang hidup di era digital. Karena itu, mereka perlu dibekali bagaimana menggunakan teknologi secara positif, produktif, dan bertanggung jawab sejak hari pertama masuk sekolah,” imbuhnya.
Isu kesehatan mental peserta didik selama masa transisi ke jenjang pendidikan baru juga tak luput dari perhatian. Materi mengenai pencegahan perundungan (bullying), intoleransi, kekerasan seksual, hingga pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekolah diharapkan menjadi bagian wajib dalam materi MPLS.
“Orientasi sekolah harus menjadi ruang yang aman bagi siswa baru. Mereka harus merasa diterima, nyaman, dan memiliki semangat tinggi untuk belajar,” tutur Alfi.
Lebih lanjut, Alfi menginstruksikan seluruh panitia MPLS, baik guru maupun pengurus OSIS, untuk memosisikan diri sebagai pendamping dan sahabat bagi siswa baru. Ia menegaskan seluruh materi wajib berkiblat pada pedoman resmi Kementerian Pendidikan dengan menghapus penugasan yang dinilai membebani siswa dan orang tua.
“Kakak-kakak pendamping harus menjadi pembimbing, bukan penguasa. Tidak boleh lagi ada tugas membawa barang-barang aneh atau aktivitas yang menyulitkan orang tua. MPLS harus dilaksanakan secara serius tetapi tetap menyenangkan,” cetusnya.
Di akhir masa orientasi, sekolah diminta menyediakan ruang refleksi agar peserta didik dapat membagikan pengalaman positif yang mereka dapatkan. Alfi berharap skema ini mampu mencetak generasi muda Kota Batu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia, adaptif, dan peduli lingkungan.
“Dengan komitmen bersama antara sekolah, Dinas Pendidikan, dan dukungan orang tua, kami ingin MPLS menjadi gerbang lahirnya generasi Kota Batu yang cerdas, berkarakter, serta siap berkontribusi bagi pembangunan daerah sesuai semangat mBatu SAE,” pungkas Alfi. (*)


























