Gresik, Tagarjatim.id – Daya saing kawasan industri pada masa depan tidak lagi hanya ditentukan oleh kelengkapan infrastruktur maupun besarnya investasi yang masuk. Pengelolaan lingkungan yang berbasis data, transparan, dan berkelanjutan kini menjadi salah satu indikator utama yang menentukan kepercayaan investor sekaligus keberlanjutan sebuah kawasan industri.

Pandangan tersebut disampaikan Guru Besar Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga, Prof. Eddy Setiadi Soedjono, dalam rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang digelar PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS) selaku pengelola Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) di Gresik.

Kegiatan tersebut mempertemukan pemerintah daerah, akademisi, pelaku industri, tenant kawasan, serta masyarakat pesisir untuk memperkuat kolaborasi dalam pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Prof. Eddy menegaskan bahwa kondisi lingkungan di kawasan industri maupun wilayah pesisir tidak dapat dinilai hanya berdasarkan satu parameter atau satu kali pengamatan. Menurutnya, perubahan kualitas perairan, kondisi ekosistem pesisir, hingga produktivitas sumber daya perikanan dipengaruhi banyak faktor yang saling berkaitan.

“Perubahan kualitas perairan, kondisi ekosistem pesisir, maupun produktivitas sumber daya perikanan dipengaruhi banyak faktor yang saling berinteraksi. Oleh karena itu diperlukan monitoring jangka panjang, data berkala, serta kajian multidisiplin sebelum menarik kesimpulan mengenai kondisi lingkungan suatu kawasan,” ujarnya, Selasa (30/6/2026).

Ia menambahkan, pendekatan berbasis data menjadi fondasi penting agar setiap kebijakan pengelolaan lingkungan dilakukan secara objektif, terukur, dan mampu menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif menilai peringatan Hari Lingkungan Hidup seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi diwujudkan melalui aksi nyata yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

“Butuh kolaborasi bersama industri, masyarakat pesisir, dan seluruh pemangku kepentingan. Kami mengapresiasi sinergi yang telah dibangun, termasuk perlindungan jaminan sosial bagi nelayan serta rehabilitasi kawasan pesisir melalui penanaman mangrove,” katanya.

Sebagai bentuk implementasi, JIIPE secara rutin melakukan pemantauan kualitas lingkungan menggunakan hasil uji laboratorium terakreditasi yang mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021. Data tersebut menjadi dasar evaluasi sekaligus pengambilan keputusan dalam pengelolaan kawasan industri secara berkelanjutan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik, Sri Subaidah, menyebut langkah tersebut sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan industri yang tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

“Kami mengapresiasi langkah BKMS yang telah menginisiasi penanaman ribuan pohon mangrove di kawasan Kalimireng. Selain membantu mengurangi abrasi dan mendukung adaptasi terhadap perubahan iklim, mangrove menjadi investasi lingkungan yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat hingga generasi mendatang,” ujarnya.

Pada momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, JIIPE bersama Pemerintah Kabupaten Gresik, akademisi, tenant kawasan, serta masyarakat pesisir juga melaksanakan aksi rehabilitasi lingkungan melalui penanaman 1.000 bibit mangrove, pelepasan 1.000 benih ikan, dan 100 benih kepiting di kawasan Kalimireng.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gresik, Arief Witjaksono, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sumber daya perikanan sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir.

“Harapannya, hasil tangkapan dapat semakin tersedia di sekitar kawasan sehingga nelayan tidak perlu melaut lebih jauh. Upaya ini harus dijaga bersama agar manfaat ekologis dan ekonominya dapat dirasakan secara berkelanjutan,” katanya.

Selain rehabilitasi ekosistem, BKMS juga terus memperkuat infrastruktur lingkungan dengan mengoperasikan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, dan Recycle (TPS3R). Seiring berkembangnya kawasan industri, fasilitas tersebut akan dikembangkan menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) guna meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah secara mandiri dan terintegrasi.

Direktur PT BKMS, Bambang Soetiono, menegaskan bahwa tata kelola lingkungan kini menjadi bagian penting dari strategi bisnis kawasan industri.

“Ke depan, daya saing kawasan industri tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur dan investasi, tetapi juga oleh kredibilitas tata kelola lingkungannya. Karena itu kami terus memperkuat monitoring berbasis data, mengembangkan infrastruktur lingkungan, serta membangun kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, tenant, dan masyarakat sebagai bagian dari strategi pembangunan kawasan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Melalui penguatan monitoring lingkungan, rehabilitasi ekosistem pesisir, pembangunan infrastruktur pengelolaan sampah, serta kolaborasi multipihak, JIIPE menegaskan komitmennya membangun kawasan industri yang kompetitif sekaligus bertanggung jawab terhadap aspek lingkungan.(*)

Iklan Ucapan Selamat Hari Bhayangkara dari dinas pendidikan kota batu
WhatsApp Image 2026-06-30 at 08.41.49