Sidoarjo, Tagarjatim.id – Bagi sebagian besar petani di dataran rendah Sidoarjo, sebidang tanah yang rapuh, basah, dan rentan tergenang air umumnya dianggap lebih cocok untuk ditanami padi atau dijadikan tambak. Menanam pohon berkayu keras di atas lahan yang gemar menyimpan air kerap dipandang sebagai keputusan yang melawan karakter alam.

Pohon kelengkeng, secara alami, sulit tumbuh pada tanah yang tergenang dalam waktu lama. Akar tanaman ini rentan membusuk dan akhirnya mati perlahan. Namun, di Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, kondisi tersebut justru berhasil diatasi oleh seorang petani berusia 37 tahun bernama Yulianto.

Di atas lahan seluas 1,2 hektare yang sebelumnya merupakan sawah produktif dengan tingkat kejenuhan air tinggi, Yulianto berhasil membangun kebun yang ditanami sekitar 300 pohon kelengkeng varietas New Crystal atau Kateki. Pohon-pohon itu kini tumbuh subur, rimbun, dan berbuah lebat di tengah keraguan banyak orang terhadap potensi lahan basah.

“Tantangan terberat budidaya kelengkeng di sini memang lahan basah. Pohon kelengkeng tidak suka terlalu banyak air sehingga membutuhkan perawatan ekstra dibandingkan ditanam di lahan kering,” ujar Yulianto saat ditemui di kebunnya di Tulangan, Sidoarjo, Minggu (7/6/2026).

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Yulianto menerapkan sistem guludan dengan membuat gundukan tanah setinggi puluhan sentimeter sebagai media tanam utama. Cara ini dipilih untuk menghindari genangan air yang dapat terperangkap jika menggunakan metode penanaman konvensional.

Melalui sistem tersebut, posisi akar tanaman berada lebih tinggi dibanding permukaan air tanah yang fluktuatif. Metode itu juga didukung jaringan drainase yang terus diperbaiki secara berkala di seluruh area kebun.

Ketika hujan deras mengguyur kawasan Tulangan dan banjir datang, air hanya menggenangi lahan dalam waktu singkat sebelum dialirkan keluar melalui saluran drainase yang telah disiapkan.

“Kalau terjadi banjir, yang paling penting adalah memastikan air cepat surut. Karena itu kami fokus memperbaiki drainase dan membuat sistem tanam yang sesuai dengan kondisi lahan,” katanya.

Keputusan yang diambil Yulianto pada 2022 itu kini mulai membuahkan hasil manis. Memasuki tahun keempat, kebun kelengkeng miliknya bersiap menghadapi panen keempat. Dari proses pembosteran hingga buah siap dipetik, diperlukan waktu sekitar enam bulan.

Dalam satu musim panen, setiap pohon mampu menghasilkan 30 hingga 50 kilogram buah, tergantung usia dan ukuran tanaman. Secara keseluruhan, lahan yang sempat diragukan tersebut kini mampu menghasilkan sekitar 4 hingga 5 ton kelengkeng segar per musim panen untuk memenuhi pasar lokal.

“Dari pembosteran sampai panen membutuhkan waktu sekitar enam bulan. Produksi setiap pohon berbeda-beda, ada yang 30 kilogram, 40 kilogram, sampai 50 kilogram,” jelasnya.

Ketertarikan Yulianto terhadap budidaya kelengkeng bermula sekitar sepuluh tahun lalu. Saat itu ia merasa heran ketika membeli setengah kilogram kelengkeng impor dengan harga Rp 70.000 di pasar.

“Awalnya beli kelengkeng setengah kilo harganya Rp 70.000. Dalam hati saya bertanya, kenapa Indonesia yang beriklim tropis dan subur harus terus-menerus bergantung pada pasokan buah dari Thailand atau Vietnam?” kenangnya sambil tersenyum.

Rasa penasaran tersebut mendorong Yulianto untuk belajar secara mandiri. Ia mengumpulkan berbagai referensi, berdiskusi dengan praktisi pertanian, hingga mengadopsi sejumlah teknik budidaya dari petani di negara-negara eksportir kelengkeng.

Menurutnya, salah satu tantangan lain adalah mengubah pandangan masyarakat yang menganggap semua jenis kelengkeng memiliki kualitas yang sama.

“Yang kami tanam di sini varietas New Crystal atau Kateki yang sudah memiliki sertifikasi dari Kementerian Pertanian. Varietas ini memiliki kualitas buah yang bagus, daging buah tebal, dan cocok untuk dikembangkan,” terangnya.

Selain menghadapi tantangan genangan air, menjelang musim panen kebun tersebut juga kerap menjadi sasaran kelelawar yang memakan buah matang.

Untuk mengatasinya, Yulianto memasang jaring pelindung di area tajuk pohon guna menjaga kualitas buah hingga masa panen tiba.

Secara ekonomi, usaha budidaya kelengkeng ini tergolong menjanjikan. Dengan harga jual yang relatif stabil di kisaran Rp 50.000 per kilogram, omzet kotor yang diperoleh mencapai Rp 200 juta hingga Rp 250 juta setiap musim panen.

Dalam satu tahun, kebun tersebut bahkan dapat dipacu menghasilkan satu hingga dua kali panen, tergantung kondisi tanaman dan cuaca.

Namun, bagi Yulianto, kebunnya bukan semata-mata sarana bisnis. Di area yang tidak ditanami kelengkeng, ia mengembangkan sistem pertanian terpadu berupa kolam ikan, peternakan, dan kandang yang saat ini menampung sekitar 100 ekor kambing.

Seluruh unit usaha tersebut ia kelola sendiri sebagai bagian dari upaya membangun kawasan pertanian yang produktif sekaligus edukatif.

Kedepan, Yulianto berharap kawasan tersebut dapat berkembang menjadi ruang edukasi terbuka bagi masyarakat, mulai dari anak-anak usia dini hingga mahasiswa pertanian yang ingin mempelajari praktik budidaya dan peternakan secara langsung.

“Visi kami adalah edukasi. Siapa saja yang ingin belajar tentang kebun, peternakan, atau pertanian secara umum, kami terbuka dan siap berbagi pengalaman,” tuturnya.

Ketika ditanya mengenai dukungan dari pemerintah, Yulianto mengaku tetap optimistis meski selama ini lebih banyak berjalan secara mandiri.

“Kalau dibantu pemerintah, ya syukur alhamdulillah, kita terima. Kalau diberikan, ya diterima,” ucapnya sembari tersenyum tipis.

Bagi Yulianto, kepuasan terbesar bukan hanya terletak pada hasil panen yang melimpah, melainkan pada keberhasilannya membuktikan bahwa inovasi dan ketekunan mampu mengubah lahan basah yang dianggap terbatas menjadi kebun kelengkeng produktif bernilai ekonomi tinggi.(*)

selamat hari lahir pancasila
WhatsApp Image 2026-06-01 at 12.15.08