Kota Batu, Tagarjatim.id – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat membawa dampak tersendiri bagi sektor pariwisata Kota Batu. Di satu sisi, kondisi tersebut mendorong peningkatan kunjungan wisatawan domestik dan tingkat hunian hotel. Namun di sisi lain, lonjakan jumlah pengunjung belum otomatis mendongkrak pendapatan pelaku usaha wisata dan perhotelan.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi, mengatakan fenomena tersebut terlihat jelas saat momentum libur panjang (long weekend) Mei 2026. Tingkat okupansi hotel di Kota Batu saat itu mampu menembus angka 80 persen.

Menurutnya, melemahnya rupiah membuat biaya perjalanan ke luar negeri menjadi lebih mahal sehingga banyak masyarakat memilih berlibur di destinasi dalam negeri, termasuk Kota Batu.

“Pada long weekend Mei kemarin okupansi hotel di Kota Batu rata-rata mencapai 80 persen. Ini menunjukkan sektor pariwisata masih bergerak positif. Masyarakat tetap berwisata dan Kota Batu masih menjadi salah satu destinasi pilihan,” ujar Sujud, Kamis (4/6/2026).

Namun, tingginya kunjungan wisatawan tersebut tidak serta-merta berdampak pada peningkatan pendapatan pelaku usaha. Menurutnya, kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih membuat masyarakat semakin sensitif terhadap harga sehingga hotel maupun pengelola wisata tidak leluasa menaikkan tarif.

“Ini yang saya sebut dampak ganda. Pariwisata memang bertumbuh karena masyarakat lebih memilih berwisata di dalam negeri, tetapi pendapatan belum tentu ikut bertumbuh. Kami tidak bisa menaikkan tarif secara signifikan karena daya beli masyarakat masih tertekan,” katanya.

Sujud menjelaskan, wisatawan saat ini cenderung lebih selektif dalam menentukan destinasi maupun anggaran liburan. Mereka lebih memilih objek wisata yang menawarkan harga terjangkau dengan pengalaman yang dinilai sepadan.

“Banyak masyarakat sekarang memilih wisata dengan budget yang relatif murah. Misalnya paket bundling di Jatim Park yang dianggap lebih hemat atau Selecta dengan Mikutopia yang menawarkan tiket terjangkau. Pilihan-pilihan seperti ini yang saat ini banyak dicari wisatawan,” jelasnya.

Menurut dia, tren tersebut juga terlihat di sejumlah destinasi wisata alam di Malang Raya. Saat libur panjang beberapa waktu lalu, kawasan pantai di wilayah Malang Selatan dipadati pengunjung karena menawarkan harga tiket masuk yang relatif murah.

“Pantai-pantai di Malang kemarin juga ramai saat long weekend karena harga tiket masuknya murah. Ini menunjukkan masyarakat masih ingin berwisata, tetapi mereka sangat memperhitungkan pengeluaran. Jadi kunjungan meningkat, tetapi belanja wisatawan tidak serta-merta ikut naik,” tambahnya.

Sujud menuturkan, kondisi saat ini berbeda dibanding beberapa tahun lalu ketika pelaku usaha hotel masih memiliki ruang untuk menaikkan tarif kamar saat musim liburan.

“Kalau sekarang berbeda. Saat long weekend harga kamar relatif tetap. Dulu tarif bisa naik 50 persen bahkan sampai dua kali lipat. Sekarang harga Rp1 juta ya tetap Rp1 juta,” ungkapnya.

Akibatnya, meski tingkat hunian hotel masih berada di angka yang sama dengan tahun sebelumnya, pendapatan yang diperoleh tidak lagi setinggi periode-periode sebelumnya.

Sebagai ilustrasi, jika pada tahun lalu hotel dengan okupansi 80 persen masih dapat menjual kamar dengan kenaikan harga hingga Rp250 ribu dari tarif normal, saat ini hotel lebih memilih mempertahankan harga agar tetap kompetitif di tengah kondisi pasar.

Fenomena serupa juga dirasakan sektor destinasi wisata. Sujud yang juga Direktur Utama Taman Rekreasi Selecta menyebut jumlah kunjungan wisatawan ke Selecta sepanjang 2026 mengalami peningkatan cukup signifikan.

“Secara kunjungan naik sekitar 30 persen dibanding tahun lalu. Tetapi pendapatan tidak ikut naik 30 persen karena ada berbagai promo dan potongan harga yang masih kami berikan kepada pengunjung,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan wisatawan saat ini sangat peka terhadap perubahan harga. Program diskon maupun promo menjadi salah satu faktor yang cukup efektif mendongkrak kunjungan.

“Sedikit saja ada promo atau harga yang lebih terjangkau, masyarakat akan tertarik datang. Sebaliknya, kalau harga terlalu tinggi, mereka akan mempertimbangkan ulang untuk berwisata,” katanya.

PHRI Kota Batu menilai kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha pariwisata. Di tengah meningkatnya jumlah kunjungan, pelaku usaha dituntut mampu menjaga daya tarik destinasi melalui inovasi paket wisata, kolaborasi antarpelaku usaha, hingga strategi promosi yang sesuai dengan kondisi pasar.

“Yang terpenting saat ini adalah menjaga kunjungan tetap tinggi sambil menyesuaikan dengan kondisi pasar. Karena faktanya, pelemahan rupiah memang mendorong wisata domestik tumbuh, tetapi belum tentu berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan pelaku usaha,” pungkas Sujud. (*)

selamat hari lahir pancasila
WhatsApp Image 2026-06-01 at 12.15.08