Kota Malang, Tagarjatim.id – Masalah sampah plastik di Kota Malang yang mencapai 700 hingga 800 ton per hari memicu lahirnya sebuah inovasi keren. Universitas BINUS (Bina Nusantara) Malang menggandeng warga Kelurahan Gadingkasri (Kampung KASRI), Kecamatan Klojen, untuk menyulap limbah plastik menjadi produk Eco-Furniture dan dekorasi rumah bernilai ekonomi tinggi.

Inisiatif kolaboratif ini menjadi bagian penting dari momentum perjalanan 45 tahun BINUS University dan 10 tahun BINUS @Malang dalam program “BINUS Untuk Negeri” (BUN). Melalui program bertajuk Edu Eco-Furniture Village, BINUS membuktikan bahwa kampus tidak hanya menjadi tempat belajar eksklusif bagi mahasiswa, tetapi juga hadir memberikan solusi nyata di tengah masyarakat.

Program yang sudah berjalan selama sebulan ini berhasil melahirkan karya bernama KARUPA (Karya Aksi Rupa Ulang Plastik). Untuk menjaga kualitas dan daya saing produk, BINUS tidak main-main dengan melibatkan berbagai program studi (prodi) sekaligus secara berkelanjutan.

Student Development Associate Manager BINUS Malang, Dr. Yoseph Benny Kusuma, menjelaskan bahwa proses pendampingan dilakukan dari hulu ke hilir. Prodi Desain Interior dilibatkan penuh untuk merancang estetika produk, sementara dosen Kewirausahaan mematangkan strategi bisnisnya.

“Dari program studi Desain Interior itu yang berfokus untuk mendesain produknya. Kemudian untuk melihat nilai jualnya seperti apa, kami mengundang dosen-dosen dari Kewirausahaan. Sehingga produk yang dibuat itu bukan hanya bagus, tapi juga bisa menguntungkan,” ujar Benny saat ditemui dalam pameran produk Edu Eco-Furniture Village di kawasan Kayutangan Heritage, Sabtu (13/10/2026) malam.

Kepala Prodi Desain Interior BINUS @Malang, Ira Audia Agustina, menambahkan bahwa KARUPA merupakan representasi bagaimana proses kreatif mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah.

“Kami mendorong mahasiswa dan masyarakat untuk melihat limbah plastik sebagai material yang memiliki potensi desain,” tuturnya.

Tak berhenti di situ, prodi Public Relations dan Desain Komunikasi Visual (DKV) juga diterjunkan agar setiap produk memiliki narasi sosial yang kuat.

“Semua produk-produk ini punya cerita. Jadi orang membeli bukan hanya karena fungsinya, tapi karena ceritanya. Mereka menjadi bagian dari perubahan, menjadi orang yang peduli terhadap lingkungan,” tambah Benny.

Inovasi ini disambut antusias oleh warga Klampokasri. Seluruh elemen masyarakat, mulai dari bapak-bapak, lansia, usia produktif, Karang Taruna, hingga anak-anak yang sedang libur sekolah, ikut terlibat aktif memilah dan mengolah plastik jenis HDPE ini.

“Program ini memberikan kami pengetahuan dan keterampilan baru dalam mengolah limbah plastik. Selain membantu menjaga lingkungan, kami juga melihat adanya peluang untuk meningkatkan pendapatan melalui produk yang dihasilkan,” ungkap Tri Priyo Wahyudi, salah satu perwakilan warga Klampokasri.

Deputy Campus Director BINUS @Malang, Alvin Chandra, menegaskan komitmen pemberdayaan ini.

“Melalui BINUS Untuk Negeri, kami ingin memastikan bahwa kehadiran BINUS @Malang tidak hanya memberikan pendidikan berkualitas, tetapi juga menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Kolaborasi menjadi kunci,” tegas Alvin.

Langkah konkret BINUS Malang ini mendapat apresiasi tinggi dari Pelaksana Harian (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang. Raymond menyebut inovasi recycle (daur ulang) ini menjadi pelengkap dari program reduce dan reuse yang selama ini berjalan di 400 bank sampah Kota Malang.

“Selama ini mereka menjual tutup botol, botol plastik, dan kresek dalam bentuk mentah. Hari ini ada inovasi bagaimana tutup botol ini tidak dijual dalam bentuk tutup, tetapi dalam bentuk barang yang lebih mahal harganya,” kata Raymond.

Ia mencontohkan, harga jual tutup botol mentah yang awalnya hanya Rp2.000 hingga Rp4.000 per kilogram, nilainya bisa melonjak drastis hingga Rp15.000 atau lebih setelah menjadi produk jadi.

Melihat keberhasilan di Kampung KASRI, DLH Kota Malang berencana memperluas dan memperkenalkan teknologi inovasi dari BINUS ini ke 57 kelurahan lainnya di Kota Malang melalui sistem jemput bola dan replikasi di TPS 3R.

Untuk memperluas dampak, membangun awareness, dan mendekatkan produk ramah lingkungan ini ke generasi muda, program ini juga memperkuat sinergi dengan menggandeng Koffie Heritage Malang (Kopi Tot Tot) sebagai mitra strategis.

Berlokasi di kawasan ikonik Kayutangan Heritage, kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan ruang interaksi yang hidup bagi komunitas kreatif, pelaku UMKM, dan masyarakat luas di Malang Raya. (*)

selamat hari lahir pancasila
WhatsApp Image 2026-06-01 at 12.15.08