Kota Batu, Tagarjatim.id – Pemerintah Kota Batu terus mendorong penguatan ekonomi kerakyatan melalui sektor pertanian. Salah satunya diwujudkan dengan memperkuat kelembagaan petani berbasis koperasi melalui kehadiran Koperasi Produsen Multi Pihak Smart Agriculture Ecosystem (CooSAE).
Komitmen tersebut disampaikan langsung Wali Kota Batu, Nurochman, saat menghadiri Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2025 CooSAE yang digelar di Hall Arjuna Selecta, belum lama ini.
Dalam kesempatan itu, Cak Nur sapaan akrabnya, tidak hanya hadir sebagai kepala daerah, tetapi juga sebagai anggota koperasi. Ia memberikan apresiasi terhadap peran CooSAE yang dinilai mampu menjadi penggerak ekosistem pertanian di Kota Batu.
“CooSAE ini bukan sekadar organisasi formal. Perannya sangat penting dalam memperkuat posisi tawar petani di tengah dinamika pasar,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Menurutnya, koperasi tersebut telah menjadi katalisator dalam membangun sistem pertanian yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Melalui kelembagaan yang kuat, petani tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi juga memiliki akses lebih luas terhadap pasar.
“CooSAE mampu mempercepat integrasi pertanian dari hulu sampai hilir. Distribusi pasar terbuka, dan hasil panen petani bisa terserap dengan harga yang lebih baik,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dan pemanfaatan teknologi dalam pengembangan sektor pertanian. Dengan pendekatan tersebut, sektor pertanian di Kota Batu diharapkan semakin adaptif dan memiliki daya saing tinggi.
“Pertanian ke depan harus berbasis kolaborasi dan teknologi. Ini kunci agar petani kita tetap produktif dan kompetitif,” tegasnya.
Cak Nur menilai forum RAT menjadi momentum strategis bagi koperasi untuk mengevaluasi kinerja sekaligus merumuskan langkah ke depan. Ia berharap setiap kebijakan yang dihasilkan mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan petani.
“Saya berharap CooSAE terus tumbuh dengan integritas dan benar-benar menjadi motor penggerak pertanian di Kota Batu,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua KMP CooSAE, Rakhmad Hardiyanto, menyampaikan bahwa RAT tahun ini difokuskan pada evaluasi kinerja Tahun Buku 2025 serta penyusunan rencana kerja tahun 2026.
“RAT ini menjadi tonggak penting untuk memperkuat arah strategis koperasi menuju ekosistem pertanian modern berbasis teknologi dan kolaborasi multipihak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sejak berdiri, CooSAE telah mencatat sejumlah capaian positif. Saat ini koperasi tersebut memiliki hampir 100 anggota aktif serta telah menjalin berbagai kemitraan lintas sektor, mulai dari business to business (B2B), business to government (B2G), hingga business to consumer (B2C).
“Kami berhasil membuka akses pasar melalui kerja sama dengan berbagai sektor usaha dan pemerintah,” jelasnya.
Meski demikian, Rakhmad mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, seperti optimalisasi standar operasional produksi, keterbatasan infrastruktur seperti packing house, hingga sistem rantai pasok yang masih dalam tahap pengembangan.
“Secara finansial, kami masih berada pada fase investasi. Fokus kami saat ini adalah pengembangan pasar serta riset dan pengembangan,” ungkapnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, CooSAE telah menyiapkan strategi akselerasi di tahun 2026. Di antaranya penguatan tata kelola koperasi, peningkatan kapasitas SDM, standardisasi kualitas produk, hingga pengembangan sistem logistik dan digitalisasi rantai pasok.
“Semua langkah ini kami siapkan untuk membangun ekosistem pertanian yang lebih efisien, modern, dan terintegrasi,” katanya.
Dalam proyeksi tahun 2026, CooSAE menargetkan pendapatan koperasi mencapai Rp2,45 miliar sebagai langkah awal menuju koperasi yang berkelanjutan.
“Target ini menjadi pijakan untuk menjadi koperasi yang sehat dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi seluruh anggota,” pungkasnya.(*)

























