Sidoarjo, Tagarjatim.id – PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya menyiagakan petugas selama 24 jam untuk memantau kondisi tanggul di kawasan Lumpur Panas Lapindo setelah muncul rembesan pada Jumat (10/7/2026). KAI memastikan operasional kereta api di lintas Bangil-Sidoarjo tetap berjalan normal.
Manajer Humas KAI Daop 8 Surabaya Mahendro Trang Bawono mengatakan, petugas bersiaga selama 24 jam untuk mengantisipasi perubahan kondisi di lapangan. KAI juga terus berkoordinasi dengan Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) guna memastikan perjalanan kereta api berlangsung aman.
“Kami menyiapkan petugas yang akan memantau selama 24 jam apabila kondisi di lapangan berubah. Kami juga terus berkoordinasi dengan PPLS untuk memastikan kondisi jalur maupun perjalanan kereta api tetap aman dan selamat,” kata Mahendro, Minggu (12/7/2026).
Mahendro mengatakan, rembesan di tanggul lumpur telah tertangani dan tidak berdampak terhadap operasional kereta api di jalur lintasan kereta sepanjang sekitar 1,2 kilometer yang berada di sisi barat tanggul.
“Bocoran itu sudah teratasi. Bocoran yang sempat terjadi kemarin pagi juga tidak mengganggu perjalanan kereta api. Kami pastikan perjalanan kereta api, khususnya di lintas Bangil-Sidoarjo, masih aman dan dapat dilalui kereta api,” ujarnya.
Selain meningkatkan pengawasan, KAI juga menjalankan mitigasi jangka panjang dengan meninggikan rel di kawasan tersebut. Tahun ini, KAI menargetkan peninggian rel setinggi 20 sentimeter pada lintasan yang berada di sisi tanggul penahan lumpur.
Menurut Mahendro, peninggian rel diperlukan karena kawasan tersebut terus mengalami penurunan permukaan tanah (subsidence) akibat semburan lumpur. Kondisi itu membuat jalur rel kerap tergenang saat musim hujan.
“Program peninggian rel setinggi 20 sentimeter ditargetkan selesai tahun ini. Upaya ini memang tidak bisa menuntaskan persoalan banjir sepenuhnya, tetapi dapat meminimalkan dampaknya terhadap operasional perjalanan kereta api,” kata Mahendro.
Sebelumnya, PPLS menyatakan rembesan yang terjadi pada Jumat pagi dipicu penurunan permukaan tanah, bukan karena kegagalan struktur tanggul.
Saat ini, PPLS masih memperkuat tanggul di titik 10D menggunakan material lumpur dari kolam penampungan. PPLS juga mengalirkan lumpur ke kolam di titik 25 dan titik 42.
Berdasarkan hasil pengukuran berkala, debit semburan lumpur yang pada awal bencana pada 2006 mencapai sekitar 100.000-120.000 meter kubik per hari kini turun menjadi sekitar 27.000-32.000 meter kubik per hari.
Meski debit semburan menurun, arah aliran lumpur masih didominasi ke utara dan barat menuju Jalan Raya Porong serta jalur rel kereta api. Karena itu, PPLS bersama KAI terus memantau kondisi tanggul dan jalur rel untuk mengantisipasi dampak penurunan tanah terhadap keselamatan operasional kereta api.(*)

























