Kota Malang, Tagarjatim.id – Berbagai tantangan dalam dunia industri kreatif yang terus bertumbuh dalam bidang desain komunikasi dan teknologi digital, membuat para penggiatnya harus terus beradu otak untuk meningkatkan kreatifitas dan kualitasnya guna bersaing dalam dunia industri.
Untuk Menghadapi perkembangan dunia digital dan desain komunikasi yang makin dinamis, juga membuat para generasi muda seperti para mahasiswa di kampus Binus Malang, dituntut untuk tidak hanya kreatif, tapi juga bisa memberikan solusi nyata.
Menjawab tantangan tersebut, Binus Malang sukses menggelar pameran CITRAPATA – Final Project Exhibition pada 6-9 Juli 2026 yang digelar di area kampus.
Karya-karya yang dipamerkan merupakan hasil dari proses akademik yang komprehensif, mulai dari riset, perumusan konsep, hingga implementasi solusi. Beragam isu diangkat dalam karya tersebut, mencerminkan kepedulian mahasiswa terhadap permasalahan nyata, mulai dari komunikasi visual, penguatan identitas brand, hingga solusi digital berbasis teknologi interaktif.
Pameran yang merupakan tugas akhir para mahasiswa ini, menampilkan total 94 karya inovatif dari mahasiswa program Visual Communication Design (DKV) dan Interactive Design & Technology (IDT).
Bukan sekadar pajangan estetis, karya-karya yang dipamerkan ini merupakan representasi nyata dari keahlian mahasiswa dalam mengendus masalah di masyarakat lalu menyulapnya menjadi solusi aplikatif lewat sentuhan desain dan teknologi modern.
Berbagai isu sosial dan industri diangkat oleh para mahasiswa kreatif ini. Mulai dari urusan komunikasi visual yang efektif, strategi penguatan identitas brand, hingga pengembangan aplikasi dan solusi digital interaktif berbasis teknologi mutakhir.
Jadi, tercipta sebuah ekosistem keren yang memadukan evaluasi akademik sekaligus panggung eksposur agar karya mereka bisa langsung dilirik oleh masyarakat luas dan para pelaku industri.
Rektor BINUS University, Dr. Nelly, S.Kom., M.M., yang datang langsung dan melihat pameran memberikan apresiasi tinggi terhadap gelaran ini.
Menurutnya, CITRAPATA adalah bukti sahih bagaimana dunia pendidikan bisa memberikan dampak instan dan nyata bagi kehidupan sehari-hari.
“Melalui CITRAPATA, mahasiswa menunjukkan bahwa setiap permasalahan dapat direspons dengan solusi yang kreatif dan berbasis teknologi,” jelasnya.
“Ini merupakan wujud nyata komitmen BINUS University dalam fostering and empowering the society,” sambung Dr. Nelly sapaan akrabnya.
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai peran pendidikan dalam mendorong inovasi berbasis desain dan teknologi, sekaligus memperkenalkan karya mahasiswa yang memiliki relevansi dengan kebutuhan industri dan masyarakat.
Senada dengan Rektor, Direktur Kampus Binus Malang, Dr. Robertus Tang Herman, S.E., M.M., juga menyebut bahwa ajang ini menjadi bukti kesiapan mental dan skill mahasiswa BINUS Malang untuk bersaing di kancah global.
“Hal ini sejalan dengan komitmen Binus Malang dalam mencetak talenta unggul di era digital sebagai digital technopreneur campus,” tambahnya.
Sementara itu, Head of Visual Communication Design Binus Malang, Victor Adiluhung Abednego, S.T., M.Ds, mengingatkan kembali esensi dari seorang desainer di era modern.
“CITRAPATA menjadi bentuk nyata bagaimana peran Desainer hadir untuk menjadi solusi bagi permasalahan di masyarakat,” jelasnya.
“Dengan pendekatan teknologi dan riset mendalam, terciptalah karya-karya yang humanis dan tetap berakar pada kebudayaan lokal,” pungkas Victor.
Lewat CITRAPATA 2026, kampus yang dikenal dengan nama BINUS Malang ini membuktikan diri bukan sekadar tempat kuliah biasa, melainkan wadah lahirnya para inovator masa depan yang siap membawa perubahan positif dan berkelanjutan bagi industri kreatif tanah air.
Sementara itu salah satu mahasiswa yakni Arka Rasika Damara mengangkat kearifan lokal yakni tentang Batik Candi Jago di Malang pada tugas akhirnya.
Ia menceritakan bahwa mengangkat tentang Candi Jago di Malang merupakan tantangan tersendiri baginya.
“Sebenarnya ada sedikit challenge, karena banyak visual yang sebenarnya sudah tidak relevan. Terutama beberapa motif yang saya bikin, seperti motif yang kayak burung angsa, motif serigala, dan bentuk candi itu sendiri, itu banyak yang saya rekonstruksi biar relevan,” tuturnya.
“Kemudian saya merubahnya sesuai dengan yang disukai sama orang sekarang,” tambahnya.
Ia juga memperlihatkan hasilnya kepada petinggi kampus hingga awak media.
Mulai dari batik, udeng, gantungan kunci, hingga kaos yang bertema Candi Jago. (*)

























