Kota Batu, Tagarjatim.id – Wilayah Kecamatan Bumiaji menjadi salah satu dari sekian kawasan di Kota Batu yang paling rawan terkena bencana. Hal itu berdasarkan pemetaan yang telah dilakukan BPBD Kota Batu.
Kepala BPBD Kota Batu, Agung Sedayu mengatakan Kecamatan Bumiaji menjadi wilayah paling rawan bencana alam karena memiliki banyak lereng dan tebing.
“Kita sudah petakan di Kota Batu ada 7 potensi bencana alam. Contoh paling mendominasi adalah bencana tanah longsor,” ujar Agung, Selasa (7/11/25).
Ia menyampaikan untuk memeriksa dan menjadi parameter penentu wilayah tersebut rawan terjadi longsor atau tidak, yaitu berdasarkan 6 faktor. Diantaranya, dilihat melalui tingkat topografi, kemudian kerapatan vegetasi dari tanaman.
“Ketiga curah hujan, keempat catatan histori bencana yang pernah terjadi sebelumnya, Kelima jenis batu-batuan, keenam jenis tanah,” sambungnya.
Mengacu pada data, BPBD mencatat ada 122 bencana yang terjadi di Kota Batu selama tahun 2024. Dari jumlah itu, peristiwa tanah longsor yang mendominasi dengan persentase 46 persen atau 56 peristiwa.
Agung juga membeberkan, untuk wilayah paling banyak terdampak bencana pada Tahun 2024 didominasi di Kecamatan Bumiaji. Dari total kajadian tersebut, 58 bencana terjadi di Kecamatan Bumiaji.
“Kemudian disusul Kecamatan Batu sebanyak 44 kejadian dan Kecamatan Junrejo sebanyak 20 kejadian,” beber Agung.
Sebagai langkah antisipasi kebencanaan, Agung menyampaikan jika BPBD Kota Batu telah melakukan sejumlah kegiatan pada fase pra bencana. Diantaranya pendampingan survey mikroseismik, pendampingan destana Kelurahan Sisir, koordinasi dan sinkronasi data renkon Gunung Api Arjuno – Welirang dan menyelenggarakan Disaster Forum Academy (FIFA).
Dalam kegiatan fase pra bencana juga terdapat sejumlah kegiatan yang dilakukan diantaranya, latihan pencegahan dan kesiapsiagaan, satuan pendidikan aman bencana, inovasi unggana, montana dan botuna, apel kesiapsiagaan dan dimulasi bencana sarta kajian risiko bencana.
Di sisi lain, dia juga menyampaikan, berdasarkan analisis BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda, saat ini sebagian wilayah Jawa Timur telah memasuki puncak musim hujan yang diprediksi hingga bulan Februari 2025.
BMKG menghimbau kepada masyarakat agar senantiasa waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, berupa hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang.
“Mari kita tingkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan kita dalam menghadapi setiap ancaman bencana yang terjadi,” tutup Agung.(*)




















