Sidoarjo, tagarjatim.id – Pemerintah Desa Bringinbendo, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, terpaksa melakukan penyesuaian anggaran secara drastis menyusul kebijakan pemangkasan Dana Desa dari pemerintah pusat. Saat ini, alokasi dana yang diterima desa merosot tajam menjadi Rp 370 juta dari nilai awal yang mencapai Rp 1,2 miliar pertahunnya.
Kepala Desa Bringinbendo, Sholeh Dwi Cahyono, mengungkapkan bahwa pengurangan anggaran sebesar lebih dari 60 persen tersebut sangat membatasi ruang gerak pembangunan fisik, terutama di sektor infrastruktur pertanian. Tidak hanya pembangunan, pos bantuan sosial untuk warga pun terdampak secara signifikan.
“Dampaknya banyak, terutama dari masyarakat yang biasanya mendapatkan BLT itu nilainya 300 dan jumlahnya ada kurang lebih hampir 50 orang, sekarang ya dipangkas habis lebih dari separuh. BLT hanya dapat 200, yang dapat cuma 15 orang,” kata Sholeh, Minggu (19/04/2026).
Guna mengatasi kondisi keuangan yang semakin ketat, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bringinbendo terus menguatkan dua unit usaha sebagai upaya penguatan ekonomi mandiri. Langkah ini meliputi pengembangan sektor ketahanan pangan melalui peternakan ayam petelur dan reaktivasi sektor pariwisata melalui kolam pancing desa.
“Untuk tahun 2026 ini, Alhamdulillah BUMDes Bringinbendo maksimalkan dua unit usaha. Pertama, usaha ketahanan pangan melalui ayam petelur yang Alhamdulillah sudah beroperasi dan menghasilkan,” ujar.
Selain sektor pangan, pihak desa kini fokus menghidupkan kembali unit wisata kolam pancing yang memanfaatkan Tanah Kas Desa (TKD). Fasilitas ini sebelumnya sempat dikelola oleh organisasi kemasyarakatan pada tahun 2022, namun terhenti karena pengelolaan yang tidak transparan.
“Dulu kolam pancing sudah ada. Cuma di saat itu pengelolaannya tidak jelas. Makanya setelah ada BUMDes, kita tarik dan masukkan ke unit usaha desa karena menggunakan lahan TKD,” tuturnya.
Meski sempat terkendala masalah anggaran dan kepengurusan, BUMDes berhasil melakukan penataan ulang pada April 2026 agar pendapatan dari sektor ini dapat masuk ke kas desa secara transparan.
Reaktivasi kolam pancing ini pun mulai menggerakkan UMKM sekitar, yang ditandai dengan tumbuhnya warung-warung baru milik warga.
Pada pembukaan perdana, unit usaha wisata ini menarik minat sekitar 170 peserta mancing dengan menyediakan berbagai jenis ikan air tawar seperti gurami, patin, hingga tombro.
Langkah inovasi ini diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang bagi desa di tengah tren penurunan anggaran dari pusat.(*)

























