Kota Malang, Tagarjatim.id – Dedikasi dan semangat kemanusiaan ditunjukkan Ahmad Muhyiddin Alilala atau yang akrab disapa Khalid, mahasiswa Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), saat terlibat dalam proses evakuasi tiga pendaki yang tersesat di jalur selatan Gunung Semeru.
Mahasiswa yang juga anggota Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) tersebut mengaku menerima informasi mengenai adanya pendaki yang hilang sekitar pukul 02.00 dini hari. Tanpa berpikir panjang, ia bersama seorang rekannya langsung mempersiapkan perlengkapan dan berangkat menuju lokasi.
“Informasi kami terima sekitar jam 2 dini hari dari grup Mapala. Jam 3 pagi kami langsung berangkat,” ujar Khalid.
Keduanya bergerak menuju posko di wilayah Ampelgading, Kabupaten Malang, untuk bergabung dengan relawan lain sebelum mengikuti arahan dari tim SAR dan Basarnas yang memimpin operasi pencarian dan penyelamatan.
Saat tiba di lokasi, ketiga pendaki sebenarnya telah ditemukan oleh warga setempat. Namun, medan yang sulit dijangkau membuat proses evakuasi tetap membutuhkan bantuan banyak pihak.
“Korban sudah ditemukan warga. Kami membantu proses membawa korban turun dari lokasi,” katanya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, ketiga pendaki tersebut melakukan pendakian melalui jalur selatan yang tidak resmi. Mereka memulai perjalanan pada Sabtu (31/5/2026) dan diduga salah mengambil arah saat hendak turun gunung.
Alih-alih mengikuti jalur yang benar, mereka justru bergerak ke area yang lebih curam hingga menemukan aliran sungai. Upaya mengikuti aliran air tersebut justru membawa mereka ke kawasan jurang yang berbahaya.
“Mereka menemukan aliran sungai dan berusaha mengikuti jalur air. Tetapi medan di bawah berupa jurang yang sangat terjal,” jelas Khalid.
Ketiga pendaki dilaporkan hilang selama kurang lebih tiga hari. Beruntung, salah satu korban sempat mengirimkan lokasi melalui telepon seluler kepada keluarganya ketika mendapatkan sinyal. Informasi tersebut menjadi petunjuk penting yang membantu warga menemukan posisi mereka.
Selama menunggu bantuan datang, warga sekitar juga memberikan dukungan berupa makanan, air minum, hingga kayu bakar agar para pendaki dapat bertahan.
Meski seluruh korban berhasil ditemukan dalam keadaan selamat, salah seorang pendaki mengalami dislokasi akibat terjatuh di medan curam. Proses evakuasi pun berlangsung cukup menantang karena tim harus melewati jalur terjal sambil membantu membawa korban keluar dari lokasi.
Bagi Khalid, operasi ini menjadi pengalaman pertama melakukan penyelamatan di kawasan pegunungan. Sebelumnya, ia lebih sering terlibat dalam operasi kemanusiaan di perairan, khususnya penanganan korban hanyut di Sungai Brantas.
“Kalau rescue sebelumnya lebih sering di air, seperti penanganan orang hanyut di Sungai Brantas. Untuk di gunung ini yang pertama,” ungkapnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi para pendaki untuk selalu menggunakan jalur resmi dan mematuhi prosedur keselamatan selama melakukan aktivitas pendakian. Selain membahayakan diri sendiri, penggunaan jalur ilegal juga dapat menyulitkan proses pencarian dan penyelamatan ketika terjadi keadaan darurat. (*)

























