Sidoarjo, Tagarjatim.id – Aroma bunga yang harum memenuhi ruang utama Wihara Dharma Bakti, Kabupaten Sidoarjo. Satu per satu rupang atau patung para Buddha, Dewa, dan Bodhisatwa dibersihkan dengan penuh kehati-hatian oleh para pengurus dan umat. Tradisi memandikan rupang ini menjadi bagian dari persiapan menyambut Tahun Baru Imlek.

Bagi mereka, ritual ini bukan sekadar membersihkan debu yang menempel pada patung. Lebih dari itu, kegiatan tahunan yang dilakukan sekitar sepekan sebelum pergantian tahun dalam kalender China ini menjadi momen refleksi diri.

“Tujuannya bukan hanya membersihkan rupangnya saja, tetapi sebagai pengingat agar kita juga membersihkan batin,” ujar Nico Trisulistyo Budi, Pengurus Wihara Dharma Bakti Sidoarjo, Rabu (11/02/2026).

Menurut kepercayaan tradisi Tionghoa, menjelang Imlek para dewa diyakini tengah “naik ke surga”. Momen inilah yang dimanfaatkan umat untuk merawat rupang serta membersihkan area ibadah.

“Ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan syukur atas rezeki serta kesehatan yang telah diberikan sepanjang tahun,” katanya.

Di Wihara ini ada sekitar 200 rupang yang dimandikan selama dua hari. Prosesnya dilakukan dengan menggunakan air yang telah dicampur berbagai jenis bunga.

“Kita pakai air bunga yang bunganya melambangkan keharuman. Sebagai bentuk terima kasih kita kepada para dewa, para Bodhisatwa, setelah selesai kita bersihkan, kita mandikan, kita bilas dengan air bunga lagi,” tuturnya.

Salah satu rupang yang mendapat perhatian khusus adalah Cai Shen Ye, atau Dewa Rezeki. Sosok ini identik dengan perayaan Imlek karena melambangkan harapan akan bertambahnya kesejahteraan dan kesehatan di tahun yang baru.

“Biasanya kalau Imlek ini identik sama Cai Shen Yeh atau Dewa Rezeki. Namanya tahun baru, sesuatu yang baru, pasti orang selalu berharap rezekinya nambah, kesehatan nambah. Jadi yang dibersihkan pertama adalah Cai Shen Yeh ini,” ungkap Nico.

Namun makna terdalam dari tradisi ini justru terletak pada pembersihan diri. Umat diajak meninggalkan sifat-sifat negatif seperti iri, dengki, serakah, dan kebencian, serta menata hati untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

“Kita harus bersih dari kotoran batin dan hal-hal yang negatif. Jadi ini sebagai refleksi kita bahwa di tahun yang baru ini kita harus menjadi pribadi yang lebih baik,” jelasnya.

Usai prosesi memandikan rupang, umat di Wihara ini biasanya melanjutkan rangkaian kegiatan dengan sembahyang dan berdoa di Dhammasala atau ruang doa.

“Di Wihara Dharma Bakti ini terbuka, tidak hanya bagi umat Buddha, tetapi juga bagi penganut Tao dan Khonghucu,” pungkasnya.

Memasuki Tahun Kuda Api, umat Wihara ini berharap semangat kebaikan semakin menyala. Api dimaknai sebagai energi untuk terus menanam kebajikan, memperkuat kesabaran, serta menebarkan kerukunan di tengah masyarakat.(*)

iklan ucapan selamat hari bhayangkara dari tagarjatim.id
WhatsApp Image 2026-07-01 at 13.22.33