Sidoarjo, Tagarjatim.id – Jelang perayaan Tahun Baru Imlek 2026, aroma lem dan cat memenuhi sebuah kamar kecil di Desa Karangtanjung, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo. Di tempat inilah Yulius Setiawan menghabiskan hari-harinya, merangkai satu per satu perlengkapan Barongsai dan Liang-liong yang kelak menari di berbagai penjuru Indonesia. Tahun ini, kesibukan itu terasa berbeda lebih padat, lebih hidup.
Pembuatan perlengkapan kesenian Barongsai dan Liang-liong memang tengah mengalami peningkatan permintaan. Setelah pandemi Covid-19 mereda, perayaan budaya kembali digelar secara terbuka. Dampaknya terasa langsung hingga ke para perajin, termasuk Yulius, yang grafik pesanannya terus menanjak dari tahun ke tahun.
“Setelah Covid, tiap tahunnya naik terus untuk pemesanan Barongsai dan Liang-liong,” ujar Yulius Setiawan, Rabu (11/02/2026).
Di sela aktivitasnya dalam membuat Barongsai, Yulius menyebut bahwa pesanan datang dari berbagai daerah. Tak hanya dari Jawa Timur, karyanya kini juga menembus luar Jawa, mengiringi semangat Imlek hingga ke wilayah Indonesia Timur.
“Tahun ini kurang lebih enam Barongsai dan tiga Liang-liong. Kemarin ada yang keluar pulau juga, satu ke NTT (Nusa Tenggara Timur),” katanya.
Meski tampak meriah saat tampil di panggung perayaan, proses pembuatan Barongsai dan Liang-liong jauh dari kata instan. Setiap karakter dikerjakan secara manual, membutuhkan ketelatenan dan waktu yang tidak singkat. Baginya, detail adalah jiwa dari kesenian ini.
“Kalau Barongsai kurang lebihnya satu bulan, kalau untuk naganya (Liang-liong) kurang lebih dua bulan baru selesai, karena ukurannya panjang dan saya kerjakan secara detail,” tuturnya.
Tantangan lain datang dari ketersediaan bahan. Tidak semua barang diproduksi di dalam negeri, sehingga dia harus memadupadankan kreativitas lokal dengan aksesoris impor agar hasil akhirnya tetap memenuhi standar kesenian tradisi.
“Beberapa aksesoris seperti mata, jenggot, hidung sama pom-pom itu di impor dari China, karena di Indonesia belum bisa produksi. Yang lokal diakali sendiri,” ucapnya.
Dari segi harga, setiap unit Barongsai memiliki nilai yang berbeda, menyesuaikan kualitas bahan dan tingkat pengerjaan. Harga tersebut mencerminkan proses panjang yang dilalui sejak kerangka hingga sentuhan akhir.
“Kalau Barongsai sekarang harganya sekitar antara dari Rp 4 sampai Rp 6 juta. Tergantung ketebalan bulu,” kata pria berusia 38 tahun itu.
Bagi Yulius, meningkatnya pesanan menjelang Tahun Shio Kuda Api bukan sekadar angka. Di balik setiap Barongsai yang selesai dibuat, ada harapan bahwa kesenian ini terus hidup dan menjaga tradisi tetap bernapas di tengah perkembangan zaman.
“Harapannya ya semakin meningkat, semakin banyak dikenal, dan banyak klub-klub atau tim Barongsai baru yang bisa tumbuh,” pungkasnya.(*)























