Sidoarjo, tagarjatim.id – Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) mengungkapkan bahwa sejumlah titik tanggul penahan lumpur di kawasan Porong mengalami penurunan permukaan tanah rata-rata hingga 0,5 meter per tahun. Kondisi ini dinilai serius karena berpotensi mengganggu stabilitas tanggul, khususnya di titik 10D Desa Siring yang beberapa hari lalu sempat mengalami rembesan.
Petugas Pelaksana dan Perencanaan PPLS, Arif Wibowo, menjelaskan bahwa penurunan tanah tidak terjadi secara seragam di sepanjang tanggul sepanjang 11 kilometer. Beberapa lokasi dinilai memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi dan membutuhkan pengawasan berkelanjutan.
“Salah satunya memang di titik 10D, Desa Siring, Kecamatan Porong, yang mengalami penurunan tanah rata-rata sekitar 0,5 meter per tahun, sehingga perlu pemantauan lebih intensif,” ujar Arif, Senin (13/07/2026).
Menurut Arif, faktor utama amblesan ini adalah karakteristik geologi kawasan Porong yang berada di atas endapan sedimen dengan daya dukung tanah relatif rendah. Selain itu, keberadaan dua sesar aktif, yakni Sesar Siring dan Sesar Watukosek, juga diduga turut memicu deformasi tanah di sekitar pusat semburan lumpur.
Oleh karena itu, setiap rencana peninggian tanggul wajib melalui kajian teknis yang matang. Arif menegaskan bahwa penambahan material timbunan tidak boleh melebihi batas aman, karena justru dapat menambah beban dan mempercepat penurunan tanah.
“Setiap penambahan timbunan akan memengaruhi stabilitas tanggul. Karena itu, kami menghitung ulang hingga elevasi berapa peninggian masih aman untuk dilakukan,” jelasnya.
PPLS mencatat volume semburan lumpur terus menurun dibandingkan masa awal bencana pada 2006. Kala itu, debit lumpur mencapai 100.000–120.000 meter kubik per hari, sementara saat ini berada di kisaran 27.000 hingga 32.000 meter kubik per hari.
Meski demikian, hasil pemantauan menunjukkan aliran lumpur masih bergerak ke arah utara dan barat, menuju Jalan Raya Porong serta jalur rel kereta api. PPLS menduga penurunan permukaan tanah menjadi salah satu pemicu rembesan di titik 10D pada Jumat (10/7) lalu. Karena itu, pengawasan terhadap kondisi tanggul terus dilakukan secara berkala guna mengantisipasi potensi risiko lebih lanjut.(*)























