Kota Blitar, Tagarjatim.id – Langgar Gantung sebuah bangunan mushola di jalan Kemuning, Kelurahan Plosokerep, Kota Blitar terlihat masih kokoh berdiri, meski dibangun sekitar tahun 1825 atau dua abad silam. Bangunan mushola diatas panggung ini, merupakan peninggalan pasukan atau bala tentara Pangeran Diponegoro. Langgar ini diyakini sebagai yang tertua di Kota Blitar.

Generasi keenam keluarga pemilik Isman Hadi, kepada tagarjatim.id mengatakan, bangunan ini adalah peninggalan bersejarah terutama syiar atau masuknya islam ke wilayah Plosokerep dan sekitarnya. Bangunan ini diprakarsai oleh Irodikromo atau Mbah Iro Dikoro, tokoh penyebar Islam di wilayah Plosokerep sekaligus gerilyawan di era penjajahan Belanda.

“Didirikan oleh tentara pasukan pangeran Diponegoro yang saat itu berdomisili di Plosokerep, karena bergerilya dan bersembunyi di Plosokerep ada lima orang Singo dongso, Iro Dongso, Iro Dikoro, Iro Kerto dan Iro Merto. Selain bergerilya mereka juga menyebarkan agama islam, nah mbah Iro Dikoro mendirikan Langgar An Nur abad 18,” terang Isman Hadi di teras langgar Selasa (24/2/2026).

Dikatakan Isman, langgar ini juga memiliki ciri pohon sawo di halamannya, yang merupakan semacam sandi bagi pengikut Diponegoro di wilayah Mataraman. Namun, peninggalan pohon sawo ini hanya tinggal batang dan tonggaknya yang mengering, karena pohonnya mati. Sementara pohon sawo terakhir yang sempat bertahan, roboh diterjang angin kencang tahun lalu.

“Iya pohon sawo terakhir peninggalan bersama bangunan ini roboh tahun 2025 kemarin. Kini sudah tidak ada lagi pohon sawo keciknya,” kenangnya.

Menyoal bangunan langgar ini, Isman mengatakan telah mengalami restorasi di beberapa bagian, namun 90 persen masih bentuk aslinya. Bahkan kayu jati pilar di tengah langgar, teras dan bedug masih belum pernah diganti. Dibagian teras atap diganti seng, plafon juga diganti eternit, sementara panggung menuju teras juga telah disemen.

Atap bagian dalam mushola yang berbentuk dua limasan ini dulu sempat diganti asbes, namun kini dikembalikan dengan anyaman bambu yang didatangkan dari Jawa Barat. Sementara tempat imam tetap mempertahakan bentuk aslinya dengan ukiran yang konon berasal dari Jepara.

“Dari bangunan ini yang masih bertahan aslinya adalah tiang saka kayu jati, bedug dan tembok dari anyaman bambu, yang belum pernah diganti sama sekali,” imbuhnya.

Di bulan biasa maupun ramadan, langgar gantung juga masih digunakan untuk shalat Isya, Maghrib dan Subuh sementara tarawih maupun tadarus juga digelar di langgar bersejarah ini.

“Jamaah subuh untuk putri biasanya tadarus hingga jam 7, kemudian saat tarawih juga penuh, warga sekitar,” pungkas Isman. (*)

iklan ucapan selamat hari bhayangkara dari tagarjatim.id
WhatsApp Image 2026-07-01 at 13.22.33