Kabupaten Blitar, tagarjatim.id – Langkah kaki Zaediyah tertatih, dan harus dibantu tongkat untuk menuju pondok bambu berbentuk rumah panggung tanpa sekat. Nenek 78 tahun asal Kemirigede Kecamatan Kesamben ini, merupakan santri janda lansia, yang telah 9 kali mengikuti pondok pesantren kilat, khusus janda lansia.
Ibu 6 anak sekaligus nenek 25 cucu ini, terlihat bersemangat menjalani aktivitas pondok ramadan, mulai sahur, salat subuh berjamaah, mengikuti kajian hingga tadarus al qur’an. Semua dijalani dengan ikhlas dan penuh senyuman, apalagi Zaediyah tidak sendiri, namun bersama 42 janda lanjut usia lainya dari Blitar maupun luar kota.
Zaediyah mengaku senang, mengikuti kegiatan di bulan penuh berkah ini. Sejak tahun 2015 lalu, nenek Zaediyah selalu mengikuti pondok kilat selama 10 hingga 12 hari.
“Saya ikut pondok ramadhan ini karena senang dan ingin mencari ilmu untuk hal berguna, inshaallah hingga nanti husnul khatimah,” ujar Zaediyah kepada tagarjatim.id, sembari tersenyum di hari kelima puasa, Senin (23/02/26).
Selain Zaediyah, 42 santri janda lansia juga memiliki semangat yang sama menuntut ilmu agama di usia senja. Mereka berusia antara 60 hingga 80 tahun, sebagian menginap sebagian lainya pulang ke rumah masing masing karena jaraknya cukup dekat.
Kegiatan selama di pondok juga bervariasi, ada olahraga pagi, shalat lima waktu, tarawih dan mengikuti kajian di teras masjid serta saling memijat saat mereka penat. Siang hari ditengah kajian dari Ustadz / Ustadzah, mereka kembali ke pondok untuk istirahat. Usai tarawih, lansia ini wajib beristirahat pukul 22.00 WIB, untuk menjaga kebugaran esok pagi saat sahur.
Pengasuh pondok janda lansia Sri Banun, dikonfirmasi mengatakan kegiatan ini sudah dirintis sejak 2009 lalu. Para janda lanjut usia dari berbagai pelosok Kendalrejo, mengikuti kegiatan ini.
Setiap tahun jumlahnya bertambah, bahkan ada yang dari luar kota seperti Surabaya. Mereka juga gratis mengikuti pondok kilat selama 12 hari ini, semua biaya selama kegiatan ditanggung oleh sejumlah donatur. Kegiatan ini sempat ditiadakan saat pandemi selama dua kali, dan kembali aktif hingga kini.
“Untuk menghimpun para janda lansia ini agar tidak gampang pikun, dikumpulkan dengan teman temanya agar senang, senyum karena kalau dirumah hanya diam saja,” terang SriBanun tentang kegiatan ini.
Dikatakanya, semua santri lanjut usia ini juga dibekali dengan ilmu agama agar kelak disisa usia bisa bermanfaat terutama untuk mereka sendiri.
“Sebagai bekal jika kelak dipanggil semoga Husnul Khatimah,” pungkasnya. (*)

























