Sidoarjo, Tagarjatim.id – Pesta demokrasi tingkat desa di Kabupaten Sidoarjo melahirkan cerita inspiratif yang memikat perhatian publik. Nur Chusnan, seorang penjahit pakaian rumahan, secara mengejutkan berhasil memenangkan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Lebo, Kecamatan Sidoarjo, untuk masa jabatan 2026–2034.

Kemenangan pria bersahaja ini menjadi buah bibir lantaran ia maju tanpa sokongan kekuatan finansial yang besar ataupun jejaring politik formal. Sehari-hari, figur Nur Chusnan justru lebih lekat di ingatan warga sebagai perajin busana yang telaten sekaligus sosok religius yang pernah lama mengabdi sebagai modin desa.

Dalam kontestasi politik yang berlangsung pada 24 Mei 2026 lalu, Nur Chusnan sukses mendulang suara tertinggi, menumbangkan dominasi kepala desa petahana. Bagi sebagian pihak, hasil ini dinilai sebagai kejutan besar. Namun bagi warga Lebo, ini adalah buah dari kedekatan emosional yang telah dirajut sang penjahit selama puluhan tahun.

“Awalnya tidak sedikit yang sangsi. Banyak yang bertanya-tanya, apa mungkin seorang penjahit rumahan seperti saya bisa menang melawan petahana. Namun modal saya adalah dukungan tulus dari warga. Alhamdulillah, garis tangan menentukan kemenangan ini,” tutur Nur Chusnan saat berbincang hangat di kediamannya, Senin (22/6/2026).

Bagi Nur Chusnan, merengkuh simpati masyarakat tidak selamanya harus mengandalkan politik biaya tinggi. Kepercayaan, menurutnya, dibentuk dari konsistensi pelayanan dan komunikasi yang membumi, dua hal yang ia pelajari dari profesinya sebagai tukang jahit.

Selama lebih dari tiga dekade memotong kain dan menyatukan benang, ia paham betul bagaimana mendengarkan keinginan pelanggan secara detail, menjaga sopan santun, dan menepati janji.

“Prinsip saya sederhana, semua ini berakar dari filosofi tukang jahit. Kuncinya ada pada komunikasi yang baik dan pelayanan yang tulus kepada pelanggan. Metode itu yang saya bawa ke ranah Pilkades. Saya gemar cangkrukan dan ngopi bareng warga secara informal untuk mendengar langsung apa yang mereka keluhkan. Dari sanalah kepercayaan itu tumbuh,” bebernya.

Pendekatan humanis ini memicu gelombang dukungan sukarela. Selama masa kampanye, warga secara swadaya bergotong-royong membantu pergerakannya—mulai dari menyumbang konsumsi, meminjamkan alat pengeras suara, hingga membantu operasional kampanye di lapangan.

Meski demikian, Nur Chusnan tetap merogoh kocek pribadi yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit dari hasil memeras keringat di depan mesin jahit.

“Modal mandiri dari tabungan saya sendiri sebesar Rp 86 juta. Sisanya disokong oleh bantuan gotong-royong dari keluarga besar dan keponakan. Total biaya operasional kemarin mencapai sekitar Rp 250 juta,” urainya transparan.

Tiga Dekade Menghidupi Keluarga

Keberhasilan Nur Chusnan tidak lepas dari latar belakangnya yang tangguh. Pria kelahiran Sidoarjo, 23 April 1963 ini sudah akrab dengan dunia konveksi sejak belia. Bakatnya turun dari sang ibu, Almarhumah Kasikah, yang dulu juga membuka jasa jahit rumahan.

“Dulu awalnya saya hanya bantu-bantu ibu. Belajar dari hal kecil, seperti menambal baju robek atau merapikan jahitan yang kurang lurus,” kenangnya sembari tersenyum.

Keterampilan tersebut kemudian diasah hingga menjadi tumpuan ekonomi utama keluarganya selama 34 tahun terakhir. Bersama sang istri, Machnunah, Nur Chusnan menerima segala macam orderan, mulai dari seragam sekolah anak-anak hingga busana pengantin yang rumit.

“Omzet paling terasa biasanya saat tahun ajaran baru sekolah atau musim orang hajatan nikah,” imbuhnya.

Menariknya, meski statusnya kini sudah menjadi kepala desa terpilih, Nur Chusnan terpantau masih sibuk menginjak pedal mesin jahitnya sembari menanti hari pelantikan resmi.

“Nanti kalau sudah dilantik, tentu fokus utama saya adalah melayani warga di kantor desa. Tapi bengkel jahit ini tidak akan ditutup. Istri yang akan meneruskan operasionalnya, sayang kalau mandek karena kami sudah punya lima unit mesin jahit di sini,” jelasnya.

Sebelum dipercaya memimpin desa secara keseluruhan, Nur Chusnan sebenarnya bukan orang baru dalam birokrasi tingkat bawah. Ia punya rekam jejak panjang sebagai Modin atau Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat (Kaur Kesra) Desa Lebo sejak tahun 2011 hingga 2023.

Tugas mengurus administrasi pernikahan, memimpin prosesi keagamaan, hingga menjembatani urusan sosial warga membuat sensitivitas sosialnya terasah tajam.

“Dulu waktu jadi modin, sering kali saya harus mendadak melepas jahitan demi membantu warga yang membutuhkan bantuan darurat. Bagi saya, panggilan pelayanan masyarakat itu mutlak,” tegas bapak dua anak tersebut.

Pasca-kemenangan, tidak ada pesta pora berlebihan di rumahnya. Nur Chusnan memilih merayakannya lewat ritual syukuran dan doa bersama yang sederhana bersama para tetangga.

Menatap masa jabatannya yang akan berjalan selama delapan tahun ke depan, ia telah mengantongi sejumlah prioritas kerja. Sektor sanitasi, tata kelola tempat pembuangan sampah (TPS), dan perbaikan sistem drainase lingkungan menjadi fokus jangka pendek yang akan dieksekusi.

“Prinsipnya, program kerja yang sudah bagus dari kepemimpinan lama akan tetap kita pertahankan dan lanjutkan. Sementara yang masih menjadi keluhan dan kekurangan akan langsung kita benahi bersama,” janjinya.

Lebih jauh, Nur Chusnan menyimpan mimpi besar untuk mengangkat potensi lokal. Ia bertekad menyulap Desa Lebo menjadi sentra industri kreatif jahit di Sidoarjo melalui program pemberdayaan dan pelatihan bagi pemuda setempat.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya asas keterbukaan informasi dalam kepemimpinannya nanti. “Transparansi anggaran desa adalah harga mati. Warga berhak tahu ke mana saja uang desa mengalir dan apa dampak nyata yang mereka rasakan,” pungkasnya.

Hingga menjelang pelantikan resmi yang diagendakan pada 29 Juni 2026 mendatang, Nur Chusnan tetaplah Nur Chusnan yang dulu. Ia tetap setia duduk di balik meja potongnya, menyapa tetangga yang lewat, dan bersiap merajut masa depan Desa Lebo yang lebih baik dari balik ruang kerja sederhananya. (*)

selamat hari lahir pancasila
WhatsApp Image 2026-06-01 at 12.15.08