Batu, Tagarjatim.id – Pelemahan nilai rupiah tidak berdampak signifikan terhadap peternak kambing peranakan etawa sekaligus produsen susu etawa di Kota Batu, Jawa Timur. Para pelaku usaha mengaku penjualan susu etawa masih stagnan meskipun kondisi perekonomian nasional sedang tidak bersahabat.
Peternak kambing etawa, Agus Sugeng Harianto (58), warga Aji Mustopa, Desa Klerek, Kecamatan Tlekung, Kota Batu, mengakui bahwa pelemahan rupiah turut berpengaruh pada pasar UMKM. Bahkan, tidak sedikit pelaku UMKM yang memilih menaikkan harga jual di saat harga kebutuhan pokok naik.
Namun, pria yang akrab disapa Gus Embek ini memilih untuk tidak menaikkan harga susu etawa produksinya. Ia khawatir, jika harga dinaikkan, justru penjualannya akan menurun.
“Melemahnya nilai rupiah memang berpengaruh pada perekonomian. Misalnya harga plastik naik, saya akui sangat berpengaruh pada produksi susu. Tapi saya lebih memilih tetap bangkit dan tidak menaikkan harga susu etawa. Kalau harga saya naikkan, nanti masyarakat tidak mau beli lagi karena kemahalan,” ujar Gus Embek, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, ia bisa bertahan menetapkan harga susu etawa karena bahan pakan seperti rumput tidak dibeli. Ia mengaku mengambil pakan kambing dari lahannya sendiri.
“Saya bertahan karena rumputnya tidak beli. Saya punya lahan rumput sendiri. Merawat dan memerah susu kambing juga dilakukan sendiri. Saya juga tidak punya karyawan,” ujarnya.
Dari 15 ekor kambing yang dimilikinya, Gus Embek mengatakan setiap hari bisa menghasilkan 7,5 hingga 8 liter susu etawa sekali perah. Selain menjual susu murni, ia juga menjual olahan fermentasi susu etawa, seperti kefir, yogurt, dan produk perawatan kulit (*skincare*).
“Untuk susu murni, saya jual Rp25.000 per liter. Untuk olahan kefir Rp50.000 per liter. Sedangkan yogurt dan produk kosmetik atau *skincare* menunggu pesanan. Memproduksi *skincare* butuh modal yang banyak, dan saya tidak memiliki modal untuk membuatnya dalam jumlah banyak,” jelas dia.
Gus Embek menambahkan, di tengah pelemahan rupiah, penjualan susu etawa masih stagnan. Selain Kota Batu serta Kota/Kabupaten Malang, ia juga banyak menerima pesanan susu murni dan kefir dari sejumlah daerah, seperti Mojokerto, Tulungagung, Blitar, Jakarta, Bali, dan Kalimantan.
“Mereka pesan susu etawa murni dan kefir. Saat ini, pesanan yang paling banyak diminati adalah kefir. Karena kefir bisa membantu memperbaiki sel-sel rusak, menyembuhkan kanker, diabetes, osteoporosis, tangan kebas, penyakit paru-paru, serta berbagai penyakit lainnya,” jelas Gus Embek.
Meskipun kondisi ekonomi tidak baik-baik saja, ia mengimbau para pelaku usaha, khususnya UMKM, agar tetap bangkit dan bisa mengelola usaha sebaik mungkin tanpa merasa terbebani dengan keadaan negara saat ini.
“Jatuh bangun itu biasa. Kalau tumbang, ya harus bangkit lagi. Yang terpenting dalam menjalani usaha, kalau bisa jangan sampai menggunakan modal utang,” pungkasnya.(*)

























