Sidoarjo, Tagarjatim.id – Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) kini meninggikan tanggul penahan lumpur Lapindo di perbatasan Desa Siring, Kecamatan Porong, dan Desa Ketapang, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo. PPLS mengambil langkah cepat ini karena volume air dan lumpur di kolam penampungan terus meningkat hingga hampir melewati puncak tanggul.
Salah seorang warga Desa Ketapang, Usmin, mengungkapkan bahwa para pekerja telah memulai proyek peninggian ini sejak Jumat (05/06). Petugas memprioritaskan area tanggul yang berbatasan langsung dengan jalur rel kereta api serta Jalan Raya Porong.
Menurut Usmin, permukaan lumpur terus naik dalam dua pekan terakhir hingga mendekati ujung atas tanggul. Namun, warga sekitar tidak mengetahui secara pasti apakah volume lumpur yang bertambah atau justru struktur tanggul yang mengalami penurunan.
“Dua minggu terakhir ini volume lumpur hampir penuh. Kami tidak tahu pasti apakah lumpurnya yang naik atau tanggulnya yang ambles, sebab tinggi keduanya sudah hampir sejajar,” ujar Usmin, Rabu (10/6/2026).
Ia menambahkan, petugas meninggikan tanggul sekitar satu meter dengan panjang mencapai 300 meter. Untuk mempercepat proses, mereka memanfaatkan material lumpur yang mengerak dari dalam kolam penampungan itu sendiri.
“Petugas meninggikan tanggul sekitar satu meter dengan panjang kisaran 300 meter. Mereka menggunakan material lumpur dari dalam tanggul. Tujuannya mungkin untuk mencegah luapan ke jalan raya dan rel kereta api, karena lokasinya memang bersebelahan langsung,” tambahnya.
Warga lainnya, Harsono, membeberkan bahwa PPLS tidak mengalirkan lumpur ke Sungai Porong selama hampir enam bulan terakhir.
“Petugas tidak membuang lumpur, mereka hanya menyedot airnya saja. Operasional kapal keruk pun tidak menentu. Petugas baru mengoperasikannya saat lumpur benar-benar penuh, dan menghentikannya saat kondisi kembali normal,” jelas Harsono.
Meski pekerja terus memperkuat struktur pembatas tersebut, sebagian masyarakat setempat mengaku tetap cemas. Mereka berharap pihak terkait tetap mengantisipasi potensi tanggul ambles karena bisa mengancam keselamatan pemukiman sekitar.
“Kami tetap merasa khawatir dan waswas. Kami takut tanggul tiba-tiba jebol atau ambles, karena dampaknya pasti langsung menyasar ke warga,” ungkapnya.
Hingga saat ini, PPLS masih terus merampungkan peninggian pembatas di batas Desa Siring dan Desa Ketapang tersebut. Guna mempercepat mitigasi luapan dari kolam penampungan, PPLS mengerahkan dua unit ekskavator ke lokasi. (*)

























