Kabupaten Malang, Tagarjatim.id – Di tengah keterbatasan sarana dan belum memiliki gedung permanen, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Desa Senggreng, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, justru menunjukkan geliat ekonomi desa yang menjanjikan.
Kepala Desa Senggreng, Rendyta Witrayani Setyawan, mengungkapkan bahwa koperasi desa yang dipimpinnya hingga kini masih beroperasi tanpa bangunan fisik khusus. Meski demikian, aktivitas koperasi tetap berjalan dan mampu mencatat omzet hingga Rp20 juta setiap bulan.
“Kami memang belum memiliki gedung KDMP karena belum ada lahan yang representatif. Saat ini kami masih mengupayakan bantuan dari pemerintah daerah maupun instansi lain agar bisa memperoleh lahan untuk pembangunan gedung koperasi,” ujar Rendyta, Kamis (21/5/2026) malam.
Menurut dia, persoalan serupa juga dialami sejumlah desa lain di Kabupaten Malang. Dari hasil rapat koordinasi beberapa waktu lalu, terdapat 17 desa yang hingga kini belum membangun gedung KDMP.
“Kami sempat dikumpulkan bersama 17 desa yang mengalami kendala serupa. Namun sampai sekarang belum ada pembaruan apakah sudah ada yang mulai membangun gedung atau belum,” katanya.
Rendyta menjelaskan, pemerintah desa sebenarnya telah mengajukan pemanfaatan tanah kas desa untuk pembangunan koperasi. Namun rencana tersebut terkendala aturan tata ruang karena lahan yang tersedia masuk kategori persawahan produktif kelas satu.
“Tanah kas desa kami masuk area sawah produktif sehingga tidak bisa dialihfungsikan. Karena itu kami berharap ada bantuan lahan yang sesuai untuk pembangunan fisik gedung koperasi,” jelasnya.
Meski belum memiliki gedung, legalitas koperasi disebut sudah lengkap dan sesuai ketentuan pemerintah. KDMP Desa Senggreng bahkan telah aktif beroperasi sejak November 2025.
“Legalitas koperasi sudah sesuai aturan dari Kementerian Hukum dan notaris. Saat ini anggota kami mencapai 200 orang dan kami menargetkan hingga akhir tahun bisa mencapai 1.000 anggota,” paparnya.
Untuk sementara, operasional koperasi memanfaatkan area depan kantor desa. Sementara distribusi barang masih mengandalkan kendaraan inventaris desa berupa motor roda tiga jenis Viar serta sesekali menyewa mobil pikap milik warga.
“Distribusi barang sementara memakai motor Viar. Kadang juga menyewa mobil pikap milik anggota koperasi sehingga ada tambahan biaya operasional. Bantuan kendaraan biasanya baru bisa diterima setelah memiliki gedung KDMP,” ungkapnya.
Sejauh ini, koperasi desa tersebut fokus menjual kebutuhan pokok masyarakat. Produk yang dipasarkan antara lain sembako, beras, hingga telur ayam yang dipasok dari peternak lokal di wilayah Desa Senggreng.
“Harga jual kami mengikuti harga pasar. Untuk kebutuhan beras dan telur saat ini kami sudah mampu memasok kebutuhan satu SPPG. Penjualan telur ayam bisa mencapai sekitar 30 kilogram per hari,” tutup Rendyta. (*)























