Sidoarjo, Tagarjatim.id – Fahdina (28), seorang pengusaha asal Magersari, Sidoarjo, Jawa Timur, berhasil mengembangkan bisnis hantaran atau parsel hingga menjangkau pasar luar pulau menjelang Lebaran 2026. Usaha yang dirintis sejak tahun 2021 ini mencatatkan omzet mencapai Rp 150 juta per tahun dengan mengandalkan sistem kolaborasi antar-merek dan pemasaran digital.
Pemilik usaha Deparsel Surabaya ini memulai bisnisnya setelah mendalami teknik pemasaran digital dan membantu usaha kerabatnya di Yogyakarta. Pengalaman tersebut ia terapkan untuk membangun identitas merek sendiri di Sidoarjo dengan tetap menjalin kerja sama produksi lintas kota.
“Awal mula buka parsel ini karena waktu itu habis belajar digital marketing di Jogja, terus bantu saudara mengembangkan parsel. Dari sana akhirnya tahu cara produksinya dan memberanikan diri buka sendiri,” ujar Fahdina saat ditemui di kediamannya, Kamis (19/3/2026).
Model bisnis yang dijalankan Fahdina melibatkan pertukaran stok produk antara jaringan di Yogyakarta dan Surabaya. Meski bekerja sama dalam pemenuhan pesanan, masing-masing pihak tetap menggunakan identitas merek yang berbeda untuk menjaga segmentasi pasar di wilayah masing-masing.
“Jadi mereka menjual produk kami, kami juga menjual produk mereka. Tetapi tetap dengan merek yang berbeda di tiap tempat,” katanya.
Saat ini, operasional usaha didukung oleh delapan orang staf yang terbagi dalam divisi produksi, desain rotan, admin, pemasaran, hingga pengiriman. Untuk urusan pemasaran, Fahdina lebih banyak memanfaatkan aplikasi pesan singkat WhatsApp sebagai kanal transaksi utama dibandingkan situs web resmi.
“Kalau website itu sebenarnya kurang diperbarui, biasanya pelanggan cek lewat WhatsApp. Website lebih untuk menunjukkan eksistensi dan optimasi mesin pencari saja,” ucap Fahdina.
Mengenai jangkauan pasar, produk parsel dari Magersari ini telah dikirim hingga ke wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sumatera Utara. Untuk volume pesanan, ia pernah melayani permintaan tunggal mencapai lebih dari 100 paket parsel dalam satu kali transaksi.
“Pengiriman paling jauh sampai NTT dan Sumatera Utara. Kalau pesanan terbanyak dalam satu pesanan pernah mencapai 105 paket,” tuturnya.
Terkait tren pasar tahun ini, konsumen cenderung lebih meminati paket yang berisi makanan (food hamper) dibandingkan barang pecah belah. Pergeseran preferensi ini terlihat dari penurunan permintaan set alat makan yang sempat populer beberapa tahun lalu.
“Sekarang pelanggan lebih suka yang isinya penuh makanan. Kalau pecah belah itu justru menurun, padahal dulu sempat menjadi yang paling laris,” jelas Fahdina.
Selain isi paket, tampilan kemasan juga menjadi daya tarik utama bagi pembeli. Produk yang paling banyak dipesan tahun ini adalah parsel dengan keranjang rotan dua tingkat ukuran kecil yang dibanderol mulai harga Rp 350.000.
“Yang paling laris sekarang rotan dua tingkat ukuran kecil, mulai harga Rp 350.000,” ujar dia.(*)






















