Kota Batu, tagarjatim.id – Fenomena penurunan produktivitas tanaman apel di Kota Batu kian terasa. Di kawasan Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, sejumlah petani terpaksa menebang ratusan pohon apel tua yang sudah tidak lagi produktif. Keputusan ini diambil karena tingginya biaya perawatan yang tak sebanding dengan hasil panen, serta kondisi pohon yang banyak terserang penyakit.
Pantauan di lapangan pada Jumat (11/7/2025), sejumlah lahan apel tampak mulai dibongkar. Petani terlihat melakukan pemotongan dan pembersihan pohon-pohon yang telah puluhan tahun tumbuh namun kini sudah tidak menghasilkan secara optimal.
“Sudah berat untuk mempertahankan apel. Biaya perawatan tinggi, obat-obatan mahal, panennya sedikit, kadang harganya juga rendah. Jadi yang sudah tidak produktif kami tebang, rencananya kami tanami sayuran saja,” ujar Dwi, salah satu petani setempat.
Menurut Dwi, banyak pohon apel di kawasan tersebut sudah berusia 40 hingga 50 tahun. Di usia tersebut, pohon makin rentan terserang penyakit dan tidak mampu lagi menghasilkan buah yang berkualitas. Jika dibiarkan, petani justru menanggung kerugian lebih besar.
Selain faktor usia pohon, cuaca yang sulit diprediksi juga menjadi penyebab menurunnya produktivitas. Perubahan musim yang ekstrem memengaruhi pertumbuhan tanaman dan meningkatkan risiko gagal panen.
Berdasarkan data Dinas Pertanian, pada tahun 2022 luas lahan apel di Kota Batu tercatat mencapai 1.200 hektare. Namun hingga 2025, angka itu menyusut menjadi 1.092 hektare. Penurunan ini disebabkan oleh banyaknya petani yang beralih ke komoditas lain seperti sayuran dan hortikultura yang dianggap lebih menguntungkan dan stabil.
“Kalau dibiarkan seperti ini terus, bukan tidak mungkin lahan apel di Batu akan terus berkurang. Biaya tinggi, hasil rendah, cuaca tak menentu. Itu beban yang sangat berat bagi petani,” tambah Dwi.
Petani berharap adanya dukungan nyata dari pemerintah, baik berupa bantuan bibit unggul, subsidi pupuk dan pestisida, maupun pelatihan regenerasi tanaman agar tanaman apel bisa tetap menjadi identitas dan kebanggaan Kota Batu.
Gunung dan hawa sejuk Batu memang identik dengan apel. Namun, jika tekanan ekonomi terus membelit para petani, bukan tidak mungkin kebun-kebun apel akan perlahan menghilang dan berganti menjadi ladang sayur.(*)




















