Sidoarjo, Tagarjatim.id – Di sela lorong sempit yang tenang, dekat gereja Rutan Kelas I Surabaya, ada ruang kecil yang memancarkan cahaya berbeda. Bukan cahaya lampu, melainkan cahaya ilmu. Itulah perpustakaan rutan, tempat warga binaan melupakan sejenak tembok tinggi dan menggantinya dengan lembar-lembar buku.
Awalnya hanya area kosong yang nyaris terlupakan. Kini, rak-rak sederhana berjejer rapi, menyimpan ratusan buku yang siap menemani siapa saja yang haus akan bacaan. Meski ukurannya tak luas, ruang ini menjadi oase baru bagi warga binaan yang ingin mengisi hari dengan sesuatu yang bermakna.
Kepala Rutan Kelas I Surabaya, Tristiantoro Adi Wibowo, tersenyum tipis saat menceritakan harapannya di balik berdirinya perpustakaan itu. Baginya, membaca adalah jendela dunia—bahkan di tempat yang serba terbatas sekalipun.
“Perpustakaan ini lahir dari keinginan sederhana: memberi mereka kesempatan untuk terus belajar. Tempatnya memang sederhana, tapi semoga ilmunya bisa luas,” ujarnya dengan nada hangat, Minggu (28/6/2026).
Di sinilah para warga binaan tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga pelajaran hidup. Ada yang membaca novel, ada pula yang asyik mendalami buku motivasi atau keterampilan praktis. Mereka tampak larut dalam kesunyian yang produktif—sebuah pemandangan yang kontras dengan keseharian di balik jeruji, tetapi justru mengharukan.
Tak hanya sebagai sudut baca, perpustakaan ini pun memiliki peran istimewa dalam sistem pembinaan rutan. Bagi warga binaan yang melanggar aturan, selain mendapat sanksi sesuai ketentuan, mereka juga diberikan “hukuman manis”: wajib membaca dan membuat rangkuman dari buku yang dibaca.
“Kami tidak ingin menghukum dengan kemarahan, tapi dengan kesadaran. Membaca, lalu menuliskan pemahaman, itu lebih berkesan. Harapannya, mereka bukan hanya tahu aturan, tapi juga paham makna hidup,” tutur Tristiantoro.
Salah satu warga binaan mengaku terbantu dengan program ini. “Awalnya saya malas baca. Tapi lama-lama jadi kebiasaan. Sekarang malah suka nyari buku baru,” katanya dengan malu-malu, sembari menunjukkan buku yang sedang dibacanya.
Untuk memenuhi rak-rak perpustakaan, rutan pun menggandeng Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Sidoarjo. Hasilnya, sekitar 300 buku kini tersedia—masih kecil jumlahnya, tapi menjadi awal yang berarti.
Ke depan, Tristiantoro berharap koleksi itu terus bertambah. “Buku adalah teman yang tak pernah menghakimi. Kami ingin setiap warga binaan bisa pulang dengan bekal lebih dari sekadar surat bebas, tapi juga hati dan pikiran yang lebih kaya,” pungkasnya.
Di ruang mungil itu, harapan tumbuh di antara deretan buku. Di balik jeruji, ilmu tetap merdeka.(*)




























