Sidoarjo, Tagarjatim.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Juanda mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang diprediksi melanda hampir seluruh wilayah Jawa Timur hingga 28 Februari 2026. Kondisi ini dipicu oleh aktifnya fenomena Monsun Asia serta gangguan atmosfer yang meningkatkan pertumbuhan awan konvektif secara drastis.
Kepala Stasiun Meteorologi Juanda, Taufiq Hermawan, menjelaskan bahwa saat ini Jawa Timur sedang berada pada puncak musim hujan. Berdasarkan analisis atmosfer, wilayah yang mencakup 29 kabupaten dan 9 kota di Jawa Timur berisiko mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang.
“Dalam delapan hari ke depan diprakirakan terjadi peningkatan cuaca ekstrem yang berdampak terhadap aktivitas masyarakat, terutama di wilayah rawan bencana hidrometeorologi,” ujar Taufiq, Senin (23/2/2026).
Peningkatan curah hujan ini dipengaruhi oleh fenomena Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby, dan gelombang atmosfer frekuensi rendah yang melintasi wilayah Jawa Timur. Selain itu, suhu muka laut di perairan Selat Madura yang terpantau masih hangat turut memicu penguapan massal yang menjadi bahan baku terbentuknya awan hujan.
“Awan konvektif tersebut berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang, sehingga masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang terjadi secara mendadak,” lanjut Taufiq.
Wilayah yang masuk dalam zona peringatan dini meliputi daerah pegunungan dan pesisir, mulai dari Kabupaten Pacitan, Malang, hingga Banyuwangi, serta wilayah perkotaan seperti Surabaya, Kota Malang, dan Kota Kediri. BMKG menekankan bahwa karakteristik cuaca pada puncak musim ini sering kali membawa risiko banjir bandang, tanah longsor di daerah perbukitan, hingga fenomena hujan es.
Taufiq mengimbau masyarakat yang tinggal di kawasan bertopografi curam atau di dekat aliran sungai untuk lebih peka terhadap tanda-tanda alam. Ia juga menyoroti risiko teknis di jalan raya akibat cuaca buruk ini.
“Kami mengimbau masyarakat waspada terhadap potensi banjir, banjir bandang, tanah longsor, jalan licin, pohon tumbang, serta berkurangnya jarak pandang,” tegasnya.
Pihak BMKG meminta warga untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca melalui kanal resmi guna memitigasi risiko selama puncak musim hujan berlangsung.(*)

























