Kota Batu, tagarjatim.id – Kebijakan sejumlah pemerintah daerah yang melarang kegiatan study tour ke luar kota memberikan dampak signifikan terhadap sektor pariwisata, khususnya para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Batu, Jawa Timur.
Penurunan jumlah kunjungan wisatawan pelajar yang sebelumnya menjadi segmen utama pariwisata di kota ini membuat banyak pelaku usaha kesulitan bertahan.
Yusuf Indra Hermawan, pemilik Warung Al-Jufri di kawasan Pasar Apung Museum Angkut, mengaku omzet usahanya turun drastis sejak kebijakan tersebut diberlakukan.
“Long weekend yang biasanya menjadi momen puncak kini tidak berdampak signifikan. Dibandingkan tahun lalu, omzet turun hingga 50 persen. Selain jumlah kunjungan menurun, daya beli masyarakat juga ikut melemah,” ujarnya, Kamis (5/6/2025).
Yusuf menambahkan, sebelum pandemi Covid-19, kawasan wisata di Batu selalu ramai oleh rombongan pelajar dari berbagai daerah. Namun kondisi belum sepenuhnya pulih, dan larangan study tour memperparah situasi.
“Sebelum pandemi, wisata di sini selalu padat. Saat mulai bangkit, muncul larangan study tour ke luar kota. Tentu ini sangat berdampak,” imbuhnya.
Hal serupa dirasakan Ainun Nur Farida, pemilik beberapa outlet oleh-oleh. Ia bahkan terpaksa menutup sejumlah gerai di kawasan wisata seperti BNS, Jatim Park 1, dan WBL akibat merosotnya pendapatan.
“Dulu saya punya beberapa outlet di Jatim Park Group. Sekarang tinggal satu yang masih bertahan, yakni di Museum Angkut,” jelasnya.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, Ainun kini mengandalkan penjualan secara daring guna mengurangi beban biaya operasional seperti sewa tempat dan gaji karyawan.
“Karena sektor wisata makin sepi, saya memilih berjualan online agar tetap punya penghasilan,” tambahnya.
Keluhan serupa disampaikan Didik Harianto, pedagang buah dan oleh-oleh di kawasan Jatim Park 1. Ia menilai larangan study tour sangat terasa, terutama saat musim liburan sekolah yang biasanya menjadi momen peningkatan kunjungan wisata.
“Biasanya bulan Mei sudah ramai karena banyak study tour. Sekarang sepi. Kami pelaku UMKM di Batu sangat terdampak,” tegasnya.
Didik berharap pemerintah dapat mengevaluasi kebijakan tersebut. Menurutnya, wisata edukatif tidak hanya bermanfaat bagi pelajar, tetapi juga mendorong roda perekonomian daerah.
“Wisata edukasi penting, baik untuk pembelajaran siswa maupun ekonomi lokal. Pemerintah seharusnya mengkaji ulang kebijakan ini,” pungkasnya.
Sementara itu, pihak Jatim Park 1 mencatat penurunan jumlah kunjungan wisatawan sejak larangan study tour diberlakukan. Dibandingkan tahun sebelumnya, terjadi penurunan sekitar 30 persen. Bahkan saat long weekend, jumlah pengunjung cenderung fluktuatif dan tidak mengalami lonjakan berarti.
Data terbaru menyebutkan, rata-rata kunjungan harian wisatawan selama libur panjang hanya mencapai sekitar 1.000 orang per hari — angka yang tergolong rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.(*)



















