Penulis : Dixs Fibrian
Malang, tagarjatim.com – Kelenteng Eng An Kiong di Kota Malang, Jawa Timur, mulai berbenah menyambut perayaan Imlek yang jatuh pada 10 Februari 2024. Kelenteng tertua berusia hampir 2 abad yang dibangun sejak 1825 tersebut mulai dihias dengan berbagai macam ornamen khas budaya masyarakat Tionghoa.
Untuk mempercantik tempat ibadah umat Khonghucu ini, berbagai ornamen khas Cina tersebut di antaranya lampion, lilin, dupa, patung naga, lukisan para dewa dan rupang dibersihkan maupun diganti jika ada yang rusak. Bahkan, seluruh ruangan kelenteng berusia 199 tahun ini pun juga di cat kembali dengan warna cat merah dan kuning emas.
Pengurus Yayasan Kelenteng Eng An Kiong di Kota Malang, Rudi Phan, mengatakan pembenahan kelenteng rutin dilakukan setiap menjelang perayaan Imlek. Selain kelihatan indah dipandang mata, seluruh umat yang datang pada saat Imlek juga merasa nyaman dan khusuk saat sembahyang.
“Kita membersihkan tempat ibadah ini supaya dilihat umat kelihatan bersih. Jika ada ornamen seperti lampu-lampu yang rusak kita ganti,” kata Rudi Phan, Sabtu (3/2/2024).
Dia menjelaskan bertepatan dengan Pemilu 14 Februari 2024, puncak perayaan Imlek untuk tahun ini akan dirayakan secara sederhana dan tidak ada kegiatan acara seperti tahun – tahun sebelumnya.
“Nanti puncak Imlek pada 10 Februari 2024, umat hanya datang pagi sembahyang bersama, terus pulang. kita juga tidak mengadakan acara lontong Cap Go Meh karena bersamaan dengan masa pemilu,” tandasnya.
Menurut Rudi, pada saat sembahyang bersama, umat Tionghoa juga akan mendoakan pelaksanaan pesta deokrasi pemilu di Tanah Air berjalan aman dan damai.
Bangunan Kelenteng Eng An Kiong tersebut berdiri sejak tahun 1825 dibangun warga asli Tiong Hoa, bernama Liutenant Kwee Sam Hway di pusat Kota Malang, yakni berada di kawasan Pecinan Jalan R.E. Martadinata 01, Kelurahan Kota lama, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang,
Bangunan kelenteng tersebut kemudian diberi nama Eng An Kion yang bermakna sebagai istana persembahan kepada Dewa Bumi atau istana keselamatan dalam keabadian Tuhan. Kelenteng ini juga telah ditetapkan Pemerintah Kota Malang sebagai salah satu bangunan cagar budaya dan tempat ibadah warga Tionghoa pertama kali berdiri di Kota Malang. (*)
























