Sidoarjo, tagarjatim.id – Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menyiapkan langkah revitalisasi pasar tradisional menyusul penurunan okupansi kios dan tidak tercapainya target retribusi pasar pada tahun 2025. Upaya ini mencakup perbaikan infrastruktur fisik, serta percepatan digitalisasi sistem pembayaran guna memperkuat daya saing terhadap pasar modern dan tren belanja daring.
Bupati Sidoarjo Subandi memimpin koordinasi rencana tersebut dalam audiensi bersama para pengelola pasar di Ruang Transit Pendopo Delta Wibawa. Pertemuan ini melibatkan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Bahrul Amig serta Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Happy Setyaningtyas Astrawati untuk memetakan persoalan di lapangan.
“Lakukan pemetaan untuk meningkatkan retribusi. Kami juga akan turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi pasar tradisional saat ini,” ujar Subandi, Kamis (07/05/2026)
Pemkab Sidoarjo kini mendorong penerapan sistem retribusi non-tunai yang melibatkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sidoarjo. Selain itu, pemerintah menyiapkan dashboard pendataan jumlah kios dan lapak yang dapat diakses oleh seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk memastikan transparansi pengelolaan.
“Kepala pasar harus bisa berinovasi agar kondisi pasar lebih baik sehingga pembeli dan penjual merasa nyaman. Bila perlu disediakan jaringan WiFi gratis agar transaksi jual beli bisa dilakukan secara online,” katanya.
Terkait perbaikan fisik, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 2,3 miliar untuk mengelola Pasar Taman, Pasar Sukodono, dan Pasar Wonoayu. Anggaran tersebut akan membiayai pembangunan jalan paving, area los basah, serta perbaikan pagar pasar yang mulai rusak.
Rencana teknis di lapangan mencakup peninggian paving di area depan Pasar Sukodono untuk mengatasi banjir saat musim hujan. Sementara itu, Pasar Wonoayu dijadwalkan menggelar “Gebyar Pasar” pada 13-14 Mei mendatang untuk menghidupkan kembali aktivitas masyarakat di pasar tersebut.
Sejumlah tantangan masih membayangi, seperti di Pasar Wadungasri yang mencatatkan tingkat hunian kios konveksi hanya sebesar 10 persen akibat maraknya penjualan daring. Selain itu, Pasar Krian masih menghadapi kendala penyediaan tempat penampungan pasca-kebakaran serta masalah drainase yang sering tersumbat.
“Pihak pengelola Pasar Porong juga mulai mengedukasi pedagang agar dapat melakukan aktivitas jual beli secara online,” ujar salah satu koordinator pasar dalam audiensi tersebut.
Menutup pertemuan, Bupati Subandi berkomitmen segera menyelesaikan kajian teknis terkait sarana pasar yang sudah tidak memadai. Ia memastikan akan meninjau langsung lokasi pasar untuk memantau kondisi riil di lapangan.(*)




























