Sidoarjo, Tagarjatim.id – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo memperkirakan awal puasa Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis (19/2/2026). Keputusan ini diambil setelah tim Lembaga Falakiyah tidak berhasil melihat hilal dalam pemantauan di Markaz Rukyat lantai 10 RSI Siti Hajar.

Kondisi tersebut membuat bulan Syakban digenapkan menjadi 30 hari atau menggunakan metode istikmal. Pemantauan yang berlangsung selama dua jam sejak pukul 16.00 WIB ini melibatkan 30 personel tim rukyat dengan bantuan teleskop manual dan otomatis pada ketinggian 30 meter di atas permukaan laut.

Pembina Lembaga Falakiyah sekaligus Wakil Sekretaris PCNU Sidoarjo, Agus Syarifudin, menyatakan bahwa berdasarkan perhitungan hisab, posisi hilal saat matahari terbenam sudah berada di bawah ufuk. Secara astronomis, kondisi tersebut tidak memungkinkan hilal untuk terlihat.

“Pengamatan kami sampai pukul 17.58 WIB belum nampak hilal. Sesuai ketentuan, bulan Syakban dilengkapi menjadi 30 hari, sehingga Ramadhan insya Allah dimulai hari Kamis,” ujarnya, Selasa (17/2/2026).

Meskipun data astronomis menunjukkan posisi hilal minus, PCNU Sidoarjo tetap melaksanakan rukyat sebagai kewajiban syar’i. Langkah ini dilakukan untuk memverifikasi perhitungan data di lapangan sebelum dilaporkan ke tingkat pusat.

“Walaupun ketinggian hilal minus, rukyat tetap kita laksanakan sebagai perintah untuk memulai Ramadhan dengan melihat hilal. Hasilnya memang sesuai perhitungan,” katanya.

Data hisab metode ephemeris dari Markaz RSI Siti Hajar menunjukkan bahwa konjungsi atau ijtimak baru terjadi pada Selasa (17/2/2026) pukul 19.01 WIB. Sementara itu, matahari telah terbenam lebih awal pada pukul 17.53 WIB dengan posisi hilal tercatat antara minus 1 hingga minus 1,5 derajat.

Terkait potensi perbedaan awal waktu puasa di tengah masyarakat, Sekretaris PCNU Sidoarjo, Agus Ubaidillah, meminta semua pihak untuk mengedepankan sikap saling menghormati terhadap hasil ijtihad masing-masing lembaga.

“Perbedaan metode penentuan awal Ramadhan adalah hal yang lumrah dalam fikih. Kita harus saling menghargai dan tidak saling menjatuhkan,” ucap Agus Ubaidillah.

Hasil pemantauan dari Sidoarjo ini selanjutnya dikirimkan kepada Kementerian Agama sebagai bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat. Keputusan akhir mengenai penetapan 1 Ramadhan 1447 H secara nasional tetap mengacu pada pengumuman resmi pemerintah. (*)

iklan ucapan selamat hari bhayangkara dari tagarjatim.id
WhatsApp Image 2026-07-01 at 13.22.33