Kabupaten Malang, Tagarjatim.id – Memasuki abad kedua Nahdlatul Ulama (NU), wacana mengenai kriteria ideal calon Ketua Umum PBNU masa depan kian mengemuka. Tantangan zaman yang semakin kompleks dinilai membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya mumpuni dalam bidang keulamaan, tetapi juga memiliki kapasitas manajerial, jaringan luas, serta ketegasan dalam mengambil keputusan.
Berbeda dengan Rais Aam yang berfokus pada otoritas keagamaan dan kedalaman ilmu (faqih), Ketua Umum PBNU ke depan diharapkan mampu mengelola organisasi modern dengan pendekatan profesional. Selain berbasis pesantren dan menguasai fiqh, figur ketua umum dinilai perlu memiliki kemampuan manajemen organisasi, networking yang kuat, serta visi kebangsaan yang inklusif.
Pemimpin PBNU juga dituntut adaptif terhadap perubahan sosial dan dinamika global. Visi kemandirian serta integritas menjadi faktor penting agar organisasi tetap kokoh dan tidak mudah terintervensi kepentingan politik praktis. Di sisi lain, kepatuhan terhadap masyayikh atau para kiai sepuh tetap menjadi landasan moral dalam setiap pengambilan kebijakan.
Daftar Isi
Gus Fahrur dan Tantangan Zaman
Salah satu nama yang mulai diperbincangkan sebagai calon Ketua Umum PBNU 2026 adalah Dr KH Ahmad Fahrur Rozi atau yang akrab disapa Gus Fahrur. Ulama muda ini menilai, kompleksitas tantangan zaman membutuhkan nahkoda organisasi yang memiliki kemampuan multidimensi.
“Perubahan zaman tidak bisa kita hindari. Dinamika organisasi merupakan sesuatu yang lumrah, asalkan kepentingan umat tidak diabaikan. Siapapun calon Ketum PBNU nantinya, tentu yang terbaik bagi umat,” ujar Gus Fahrur, Senin (16/2/2026).
Gus Fahrur mengaku telah mengabdi di NU sejak 1995. “Kalau dihitung, sudah 30 tahun saya berkhidmat di NU,” katanya.
Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua PBNU bidang keagamaan periode 2022–2027 di bawah kepemimpinan Yahya Cholil Staquf. Selain itu, ia juga dipercaya sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang membidangi fatwa periode 2021–2025.
Rekam Jejak Organisasi dan Pendidikan
Sepak terjang Gus Fahrur di lingkungan NU telah dimulai sejak muda. Ia pernah menjadi Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail di Pesantren Lirboyo Kediri (1992–1994), kemudian berlanjut di PCNU Kabupaten Malang (1995–1998) dan PWNU Jawa Timur. Ia juga pernah menjabat Wakil Ketua RMI PBNU selama dua periode (1999–2010).
Pada Muktamar NU di Lampung tahun 2021, Gus Fahrur dipercaya menjadi Ketua Tanfidziyah PBNU bidang keagamaan untuk masa khidmat 2022–2027. Sebelumnya, ia menjabat Sekretaris PWNU Jawa Timur (2014–2019) dan Wakil Ketua PWNU Jawa Timur (2019–2022).
Dalam bidang pendidikan, Gus Fahrur tumbuh di lingkungan Pesantren An-Nur Bululawang Malang yang didirikan kakeknya, KH Anwar Nur, serta diasuh ayahnya KH Burhanuddin Hamid. Ia juga pernah nyantri di Pesantren Lirboyo Kediri. Kini, ia memimpin Pesantren An-Nur 1 Bululawang Malang yang telah berkembang menjadi An-Nur 1, 2, dan 3, salah satu pesantren besar di Malang Raya.
Di pendidikan tinggi, ia menjabat Ketua Yayasan Al Qolam yang mengelola Universitas Al Qolam di Gondanglegi, Kabupaten Malang.
Secara akademik, Gus Fahrur menempuh pendidikan S1 di Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang, S2 di Universitas Islam Malang (UNISMA), dan meraih gelar doktor ilmu sosial dari Universitas Merdeka Malang. Ia juga pernah mengikuti program International Visitor Leadership Program (IVLP) di Amerika Serikat serta short course manajemen pendidikan di Markfield Institute of Higher Education (MIHE), Leicester, Inggris.
Aktif di Ruang Publik
Di ruang publik, Gus Fahrur dikenal aktif menulis dan kerap menjadi narasumber media untuk isu-isu keagamaan, sosial, dan politik. Pemikirannya tentang fiqh kontemporer banyak beredar di media sosial dan dirujuk berbagai kalangan.
Selain sebagai ulama dan organisatoris, ia juga dikenal sebagai pengusaha dan investor di Bursa Efek Indonesia. Kiprahnya tersebut dinilai menginspirasi kalangan santri untuk mulai mengenal dunia investasi dan ekonomi nasional maupun global.
Dengan kombinasi latar belakang pesantren, pengalaman organisasi, pendidikan formal hingga doktoral, serta jejaring nasional dan internasional, nama Gus Fahrur dinilai menjadi salah satu figur potensial dalam bursa calon Ketua Umum PBNU di masa mendatang. (*)























