Kabupaten Kediri, Tagarjatim.id – Di balik hamparan perkebunan tebu di kawasan kaki Gunung Kelud, terdapat sebuah permukiman kecil bernama Kampung Onggoboyo di Desa Babadan, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Kampung yang terbilang terpencil ini masih menghadapi berbagai keterbatasan infrastruktur, meski menyimpan potensi wisata alam dan sejarah.
Permukiman tersebut dihuni sekitar 36 warga yang tinggal di 11 bangunan rumah peninggalan era kolonial. Dari 17 kepala keluarga yang tercatat, sekitar 14 keluarga masih menetap di kawasan tersebut hingga kini.
Bangunan-bangunan lama dengan dinding tebal masih berdiri kokoh dan menjadi saksi sejarah ketika kawasan itu menjadi tempat tinggal para pekerja perkebunan pada masa kolonial Belanda.
Salah satu warga, Panji (53), mengatakan dirinya telah tinggal di Onggoboyo selama sekitar 25 tahun. Ia sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan di perkebunan sekitar.
“Rumah-rumah ini dulu memang tempat tinggal pekerja kebun sejak zaman Belanda. Orang-orang datang ke sini untuk bekerja lalu menetap,” ujarnya.
Selama bertahun-tahun warga Onggoboyo hidup tanpa listrik. Saat malam tiba, penerangan hanya mengandalkan lampu minyak atau lilin. Beberapa warga kemudian menggunakan genset secara swadaya yang biasanya dinyalakan hingga sekitar pukul 21.00 WIB.
Baru pada sekitar tahun 2023 listrik mulai masuk ke kampung tersebut, meski sebagian warga masih berbagi sambungan listrik. Sementara itu, akses air bersih melalui program Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) direncanakan mulai direalisasikan pada 2025.
Selain keterbatasan fasilitas dasar, akses menuju kampung juga masih menjadi kendala. Kampung Onggoboyo berjarak sekitar satu kilometer dari permukiman terdekat dengan jalan yang masih berupa jalur setapak di tengah perkebunan.
Kondisi ini membuat warga sering merasa khawatir, terutama ketika anak-anak harus pulang sekolah saat hari mulai gelap atau ketika cuaca sedang buruk.
“Kalau anak saya belum pulang sekolah apalagi saat hujan, saya sangat cemas. Jalannya rusak dan penerangan jalannya minim,” kata Winarti (43), warga setempat.
Legislator Provinsi Jawa Timur M. Hadi Setiawan menilai Kampung Onggoboyo tidak hanya memiliki cerita tentang keterbatasan, tetapi juga menyimpan potensi yang dapat dikembangkan di masa depan.
“Lingkungannya masih alami, berada di tengah perkebunan dan dikelilingi suasana alam yang tenang. Ditambah lagi ada bangunan-bangunan lama peninggalan kolonial yang memiliki nilai sejarah. Kalau dikelola dengan baik, ini bisa menjadi objek wisata baru,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pengembangan potensi tersebut perlu dilakukan dengan kajian matang. Hal ini karena status lahan di kawasan tersebut masih berada dalam Hak Guna Usaha (HGU) milik perkebunan.
“Bukan berarti karena HGU lalu tidak bisa mendapatkan fasilitas atau dikembangkan. Pasti ada solusi, tapi kita harus memastikan dulu status lahannya dan berkoordinasi dengan pemilik lahan agar tidak menyalahi aturan,” jelasnya.
Warga berharap perhatian terhadap kampung kecil di tengah perkebunan itu dapat membuka peluang perbaikan infrastruktur sekaligus mengangkat potensi wisata yang dimiliki Kampung Onggoboyo di masa mendatang. (*)























