Kabupaten Kediri, Tagarjatim.id – Di tengah ketatnya persaingan masuk sekolah negeri, SMP Islam As-Shiddiq yang berlokasi di Desa Manyaran, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri, muncul sebagai oase bagi anak-anak duafa. Sekolah ini secara khusus mendedikasikan diri untuk menampung siswa yang tidak mampu melanjutkan pendidikan karena kendala ekonomi.

​Berbeda dengan sekolah pada umumnya, SMP Islam As-Shiddiq menerapkan sistem “jemput bola” demi memastikan anak-anak di pelosok tetap mengenyam pendidikan. Kepala Sekolah SMP Islam As-Shiddiq, Tatik Musyafaah, menjelaskan bahwa sekolahnya memberikan fasilitas serba gratis, mulai dari pendaftaran hingga seragam.

​”Iya, tidak ada biaya sama sekali karena kami mengambil anak-anak yang memang dia itu tidak mampu untuk melanjutkan di sekolah negeri karena biaya. Karena kalau di negeri kan pertama kali seragam, daftar ulang dan sebagainya, kita mengambil anak-anak yang memang tidak mampu dan du’afa,” ungkap Tatik, Minggu (22/2/2026) sore.

​Kondisi bangunan sekolah ini tergolong sangat sederhana. Meski memiliki siswa dari tiga jenjang kelas (7, 8, dan 9), gedung sekolah baru memiliki dua ruang kelas permanen. Hal ini memaksa aktivitas belajar mengajar dilakukan secara bergiliran atau menggunakan ruang darurat.

​”Otomatis ada tiga rombel, kelas 7, 8, dan 9, kita masih punya dua ruangan, ruangan kelas 7 dan kelas 8. Sedangkan kelas 9 saya taruh di ruang guru, ketika mereka ada tamu dari dinas atau ada kegiatan apa, biasanya mereka sekolahnya di Serambi musola, keluar kayak gitu,” jelas pihak sekolah mengenai keterbatasan ruang fisik tersebut.

​Tak hanya soal gedung, sarana penunjang ujian pun masih memprihatinkan. Saat pelaksanaan ANBK, sekolah harus meminjam laptop dari warga sekitar.

“Kita enggak punya laptop, kita enggak punya komputer. Pernah saya matur ke dinas juga, dipinjami ke SMP banyak juga, Alhamdulillah ketika dipinjami 20 laptop itu 15 rusak. Jadi kami mencari laptop ke tetangga-tetangga, ke teman-teman yang punya seperti itu,” tambahnya.

​Keberadaan SMP Islam As-Shiddiq ini mendapat apresiasi mendalam dari Sekretaris Jenderal Partai Golkar sekaligus anggota DPR RI, M. Sarmuji, saat mengunjungi lokasi. Ia menyebut sekolah ini memiliki keunikan yang tidak ditemukan di tempat lain, yakni kegigihan mencari siswa hingga ke pelosok.

​”Sebenarnya terharu karena saya mendatangi satu sekolah yang gratis, tapi bukan hanya gratisnya saja yang istimewa sekolah ini. Yang istimewa adalah para guru kepala sekolahnya juga itu menjemput bola, cari siswa yang tidak mampu, yang terbuang oleh sekolah karena enggak bisa membayar sekolahnya, yang putus sekolah untuk ditarik ke sekolah ini,” ujar M. Sarmuji.

​Ia menegaskan bahwa apa yang dilakukan di SMP Islam As-Shiddiq merupakan langkah konkret dalam menyelamatkan masa depan bangsa.

“Ini bukan hanya mendidik, ini menyelamatkan generasi. Karena orang bisa maju kalau sekolah. Kalau berpendidikan, kalau enggak berpendidikan susah maju,” tegasnya.

​Kepada pihak sekolah, Sarmuji memberikan bantuan operasional sebesar Rp25 juta serta berkomitmen mengawal beasiswa PIP untuk seluruh 74 siswa yang ada. Selain itu, pembangunan satu unit Ruang Kelas Baru (RKB) menjadi prioritas bantuan mendatang.

​Melalui sekolah ini, anak-anak dari keluarga tidak mampu di Manyaran kini memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi. Walau buku harus dipinjamkan bergantian dan ruang guru sering berubah menjadi ruang kelas, SMP Islam As-Shiddiq terus berdiri sebagai bukti bahwa pendidikan adalah hak segala bangsa tanpa kecuali. (*)

iklan ucapan selamat hari bhayangkara dari tagarjatim.id
WhatsApp Image 2026-07-01 at 13.22.33