Kabupaten Malang, Tagarjatim.id – Proses pemilihan Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Malang dalam agenda Musyawarah Olahraga Kabupaten Luar Biasa (Musorkablub), Sabtu (14/2/2026), berlangsung ricuh. Perdebatan sengit hingga aksi naik meja mewarnai jalannya sidang yang digelar untuk menentukan nahkoda baru organisasi olahraga tersebut.

Kericuhan terjadi saat forum membahas mekanisme pemilihan antara dua kandidat yang tersisa, yakni Darmadi dan Zia’ul Haq. Sebelumnya, satu bakal calon lainnya, Hendra Setiawan, menyatakan mundur usai menyampaikan visi dan misi.

Pimpinan sidang yang juga Pelaksana Tugas (Plt) Ketua KONI Kabupaten Malang, Mulyono, menawarkan dua opsi mekanisme pemilihan, yakni musyawarah mufakat (aklamasi) atau voting. Mayoritas peserta forum disebut menginginkan aklamasi.

Namun, usulan tersebut diprotes sejumlah cabang olahraga (cabor) yang mendukung Zia’ul Haq. Politisi dari Partai Gerindra Kabupaten Malang itu menilai proses pemilihan tidak berjalan secara prosedural dan transparan.

“Buat apa penyampaian visi misi kalau ujungnya aklamasi,” ujar Zia dengan nada tinggi di dalam forum.

Ia juga meminta dilakukan verifikasi terhadap peserta yang memiliki hak suara. Menurutnya, jika salah satu calon telah mengantongi dukungan mayoritas, seharusnya tidak keberatan dilakukan voting secara tertutup.

“Kalau sudah mengantongi dukungan mayoritas, seharusnya tidak takut voting tertutup,” tegasnya.

Situasi memanas ketika perdebatan antara Zia dengan pimpinan sidang dan sejumlah perwakilan cabor pendukung kandidat lain tak menemukan titik temu. Dalam momen tersebut, Zia bahkan sempat naik ke atas meja sebagai bentuk protes terhadap jalannya sidang.

Akibat insiden itu, pimpinan sidang memutuskan untuk menskors jalannya Musorkablub dan melakukan mediasi guna meredam ketegangan. Hingga berita ini diturunkan, proses mediasi masih berlangsung dan sidang belum kembali dilanjutkan.

Menanggapi insiden tersebut, Utusan Khusus Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Malang, Wiwit Tuhu, menilai seluruh pihak seharusnya menghormati tata tertib dan mekanisme forum.

“Kalau sampai ada yang naik meja, itu karena pimpinan sidang tidak menghargai forum,” ujar Wiwit.

Ia menyebut, bentuk perlawanan keras muncul sebagai respons atas dinamika forum yang dianggap tidak berjalan rasional. Meski demikian, ia mengakui tindakan tersebut memicu suasana yang berlebihan.

“Memang perlawanan keras itu menimbulkan hal yang agak berlebihan, tapi faktanya dengan perlawanan keras itu forum akhirnya dipending dan kembali memilih jalan musyawarah,” pungkasnya.

Proses pemilihan Ketua KONI Kabupaten Malang dipastikan akan dilanjutkan setelah mediasi menemukan kesepakatan bersama di antara para peserta Musorkablub. (*)

iklan ucapan selamat hari bhayangkara dari tagarjatim.id
WhatsApp Image 2026-07-01 at 13.22.33