Tagarjatim.id – Ritual Shong Shen menjadi salah satu tradisi yang dikenal dalam rangkaian persiapan menyambut Tahun Baru Imlek. Istilah Shong Shen sendiri merujuk pada tradisi Tionghoa kuno “Song Shen” (送神) yang berarti “mengantar dewa kembali ke langit”. Ritual ini umumnya dikaitkan dengan kepercayaan terhadap Dewa Zao Jun, sosok spiritual yang dipercaya mengawasi kehidupan rumah tangga sepanjang tahun.

Secara historis, ritual Shong Shen telah dikenal sejak masa Dinasti Han dalam tradisi kepercayaan rakyat Tiongkok yang dipengaruhi ajaran Taoisme dan Konfusianisme. Dalam kepercayaan tersebut, Dewa Zao Jun, diyakini tinggal di dapur setiap rumah dan mencatat perilaku baik maupun buruk anggota keluarga. Menjelang Tahun Baru Imlek, tepatnya sekitar tanggal 23 atau 24 bulan ke-12 kalender lunar, Dewa Dapur dipercaya kembali ke langit untuk melaporkan catatannya kepada Kaisar Langit (Yu Huang Da Di).

Prosesi ritual Shong Shen biasanya dilakukan dengan menyalakan dupa dan lilin merah, serta menyiapkan persembahan seperti buah, teh, arak, dan kue manis. Kue yang lengket dan manis memiliki makna simbolis, yakni agar laporan Dewa Dapur menjadi “manis” dan membawa kebaikan bagi keluarga. Di beberapa tradisi, gambar Dewa Dapur dibakar sebagai simbol pengantarannya ke langit.

Kepercayaan yang terkandung dalam ritual Shong Shen tidak hanya soal perlindungan spiritual, tetapi juga mengandung pesan moral. Tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga perilaku sepanjang tahun, karena setiap tindakan diyakini akan dicatat dan dipertanggungjawabkan. Nilai etika, kejujuran, serta keharmonisan keluarga menjadi inti dari ajaran tersebut.

Selain itu, ritual Shong Shen juga mencerminkan harapan akan pembaruan dan awal yang bersih. Setelah Dewa Dapur “kembali ke langit”, masyarakat biasanya mulai membersihkan rumah sebagai simbol membuang kesialan dan energi buruk sebelum memasuki tahun baru. Beberapa hari setelah Imlek, dilakukan ritual “Jie Shen” atau penyambutan kembali para dewa ke dunia manusia.

Di Indonesia, praktik ritual Shong Shen dapat berbeda-beda tergantung latar budaya dan dialek komunitas Tionghoa setempat. Namun esensi yang dijaga tetap sama, yakni memohon berkah, perlindungan, serta kelancaran rezeki di tahun yang akan datang.

Melalui ritual Shong Shen, perayaan Imlek tidak hanya dimaknai sebagai momen perayaan dan kebersamaan, tetapi juga sebagai refleksi spiritual dan pengingat untuk memperbaiki diri. Tradisi ini menjadi bagian penting dari warisan budaya Tionghoa yang terus dilestarikan lintas generasi.(*)

iklan ucapan selamat hari bhayangkara dari tagarjatim.id
WhatsApp Image 2026-07-01 at 13.22.33