Sidoarjo, Tagarjatim.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang diprediksi melanda hampir seluruh wilayah Jawa Timur hingga 20 Februari 2026. Masyarakat diimbau mewaspadai dampak bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, hingga angin kencang yang dapat mengganggu aktivitas publik.
Kondisi ini dipicu oleh sejumlah faktor atmosfer, termasuk aktifnya Monsun Asia dan suhu muka laut di perairan sekitar Jawa Timur yang masih hangat. Fenomena ini memfasilitasi pertumbuhan awan konvektif secara masif, terutama di wilayah yang saat ini sedang memasuki puncak musim hujan.
Kepala Stasiun Meteorologi Juanda, Taufiq Hermawan, menjelaskan bahwa peningkatan cuaca ekstrem ini akan terasa dalam sepuluh hari ke depan. Peringatan ini mencakup 29 kabupaten dan 9 kota di Jawa Timur tanpa terkecuali.
“Dalam 10 hari ke depan diprakirakan terjadi peningkatan cuaca ekstrem yang berdampak pada aktivitas masyarakat. Kami mengimbau agar masyarakat waspada terhadap hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang,” ujar Taufiq dalam keterangan resminya, Senin (16/2/2026).
Pihak BMKG mengidentifikasi bahwa sistem angin musiman dari Benua Asia yang membawa banyak uap air menjadi motor utama meningkatnya curah hujan. Selain itu, adanya gangguan gelombang atmosfer di sekitar wilayah Jawa Timur turut memperparah kondisi cuaca di lapangan.
“Kondisi ini dipengaruhi aktifnya monsun Asia, gangguan gelombang atmosfer, serta suhu muka laut yang hangat. Faktor tersebut mendukung pertumbuhan awan konvektif penyebab hujan lebat,” tutur Taufiq.
Wilayah dengan topografi pegunungan dan perbukitan seperti Malang Raya, Pacitan, Trenggalek, hingga jalur Ijen di Bondowoso mendapat perhatian khusus terkait risiko longsor. Sementara itu, wilayah perkotaan seperti Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik diminta mengantisipasi potensi genangan dan pohon tumbang akibat angin kencang.
“Wilayah dengan topografi curam perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap banjir, longsor, jalan licin, pohon tumbang, dan jarak pandang terbatas. Masyarakat juga diimbau memantau informasi cuaca terkini,” kata Taufiq.
Hingga pertengahan Februari, intensitas hujan di Jawa Timur dilaporkan masih tinggi dengan durasi yang bervariasi. BMKG meminta pemerintah daerah dan instansi terkait untuk memastikan saluran drainase berfungsi baik serta melakukan pemangkasan dahan pohon yang dinilai rawan patah guna meminimalkan risiko kecelakaan di jalan raya. (*)























