Kota Batu, TagarJatim.id – Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Malang Raya dalam beberapa waktu terakhir berdampak serius pada sektor pertanian bunga potong di Kota Batu. Produksi bunga mawar dilaporkan anjlok drastis, bahkan mencapai lebih dari 50 persen, dengan sebagian petani mengalami penurunan hingga 80 persen dari kondisi normal.
Yuliati, pelaku usaha bunga potong sekaligus pemilik Yulia Florist, mengungkapkan bahwa penurunan hasil panen tahun ini tergolong paling parah. Hampir seluruh petani mitranya mengalami kondisi serupa akibat cuaca yang tidak menentu.
“Biasanya satu lahan bisa panen sekitar 1.000 tangkai mawar. Sekarang paling hanya 175 sampai 200 tangkai,” ujar Yuliati saat ditemui, Jumat (16/1/2026).
Ia menambahkan, lahan dengan dua hingga tiga petak yang sebelumnya mampu menghasilkan 2.000 tangkai mawar, kini hanya menyisakan sekitar 600 tangkai dalam satu kali panen.
“Penanamannya dari dua sampai tiga ladang itu biasanya dapat 2.000, sekarang cuma sekitar 600 tangkai,” kata Yuliati.
Menariknya, penurunan produksi ini bukan disebabkan oleh serangan hama atau penyakit tanaman. Menurut Yuliati, kondisi tanaman justru tampak sehat dan tumbuh dengan baik. Namun, suhu panas ekstrem membuat tanaman mawar enggan mengeluarkan kuncup bunga.
Sebaliknya, saat curah hujan tinggi, bunga yang telah tumbuh justru membusuk dan rusak, sehingga tidak layak jual.
“Pohonnya kelihatan sehat, tapi bunganya tidak mau keluar. Kalau hujan terlalu tinggi, bunganya malah busuk,” jelasnya.
Ironisnya, di tengah minimnya pasokan, permintaan bunga mawar justru sedang tinggi, seiring masuknya bulan Rajab yang identik dengan meningkatnya aktivitas dekorasi pernikahan dan hajatan.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, Yuliati terpaksa menerapkan skala prioritas distribusi. Fokus utama pengiriman diarahkan ke luar pulau, khususnya Bali, yang menjadi pasar terbesar bunga potong dari Kota Batu.
“Pesanan dekorasi Jawa dan Bali sama-sama ramai. Tapi untuk Bali tetap kami utamakan. Kadang saya sampai tidak jual di rumah kalau permintaan sedang banyak,” ungkapnya.
Guna menutup kekurangan pasokan, pengiriman ke Bali terkadang dilakukan secara bertahap, sementara untuk pasar dekorasi lokal di Jawa, Yuliati memilih mengganti jenis bunga.
“Kalau dekorasi Jawa, bunga mawar kita ganti dengan bunga lain seperti aster. Tapi untuk Bali, tetap kita upayakan mawar,” tambahnya.
Meski produksi menurun tajam, harga mawar relatif stabil. Untuk mawar Grade A bertangkai panjang, harga dijual sekitar Rp2.000 per tangkai, Grade B Rp1.500, sementara ukuran lebih pendek berkisar Rp700 hingga Rp1.000 per tangkai. Namun, di tingkat petani, harga beli bisa melonjak saat pasokan sangat terbatas.
“Harganya jual sama, tapi kalau beli ke petani kadang bisa sampai Rp2.000–Rp2.500 per tangkai kalau lagi susah barang,” terangnya.
Saat ini, Yulia Florist mengelola setoran bunga potong dari sekitar 15 petani mitra yang hasil panennya didistribusikan ke berbagai daerah, mulai dari Bali, Jakarta, Surabaya, Kupang, hingga Samarinda.
Cuaca ekstrem yang berkepanjangan ini menjadi tantangan serius bagi petani bunga di Kota Batu. Selain menekan produksi, kondisi tersebut juga mengancam keberlanjutan pasokan bunga potong dari salah satu sentra florikultura utama di Jawa Timur. (*)

























