Jember, tagarjatim.id – Berselang 146 tahun sejak kelahiran RA Kartini, kaum perempuan di tanah air masih kerap menghadapi stigma.

Seperti perempuan yang bekerja sebagai tukang ojek online (ojol) . Meski niat mereka mulia -untuk mengais rezeki demi kehidupan keluarga- tak jarang mereka menghadapi diskriminasi atau bahkan yang menjurus pada pelecehan.

Hal ini pula yang mendorong sejumlah perempuan yang bekerja menjadi ojol di Jember untuk membentuk komunitas, dengan misi saling menguatkan.

Kartini Jember, nama komunitas tersebut. Beranggotakan sekitar 15 orang perempuan ojol, sebagian diantara mereka adalah janda yang harus menjadi kepala keluarga untuk menghidupi keluarga.

“Kami sepakat membentuk kelompok bernama Kartini Jember, sebagai wadah untuk saling mendukung dan memantau keselamatan saat bekerja, terutama saat malam hari. Tentunya bagi kami, driver ojol perempuan kan rawan,” ujar Ketua Kelompok driver Ojol Kartini Jember, Lesly Novitasari (42), saat dikonfirmasi sejumlah wartawan, Senin (21/4/2025).

Lesly mengaku, profesi menjadi driver ojol merupakan caranya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dengan cara yang halal.

“Apalagi bagi teman-teman kami yang kondisinya kurang beruntung, ada yang janda, juga ada yang dengan terpaksa menjadi ojol dengan membawa anaknya. Karena ya tidak ada yang merawat. Harus berjuang hidup sendiri,” ujarnya.

Diakui oleh Lesly, saat bekerja mengantar penumpang, kerapkali mereka mengalami tindakan kurang menyenangkan, yang mengarah kepada pelecehan seksual.

“Misal kemarin, teman kami dapat customer pria, terus dia itu boncengnya mepet banget. Kita beri arahan untuk menjauh, tapi malah tetap bahkan malah menjawab. ‘Wong di kota lainnya, seperti ini gak papa mbak’. Saya balik jawab, tidak semua sama bapak, kita jual jasa mengantar jenengan. Bukan jual diri,” ungkapnya menirukan ucapan penumpang menyebalkan tersebut.

Untuk menyiasati kejadian tidak menyenangkan tersebut, mereka menyusun satu strategi.

“Dari kejadian itu, kita antar anggota selalu shareloc. Jadi saling tahu lokasi dimana saat mengantar. Jika ada kejadian seperti itu, langsung kita turunkan dan lapor ke kantor (pemilik aplikasi Ojol). Jadi kita tidak dirugikan dengan laporan tidak benar,” ujar perempuan asal Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, Jember ini.

Pada perayaan Hari Kartini 21 April 2025 ini, Lesly berharap agar ojol perempuan seperti mereka bisa mendapat prioritas perlindungan yang lebih baik, saat bekerja sebagai mitra di perusahaan ojol.

“Komunitas kita kan dari berbagai perusahaan ojol yang ada di Jember. Keinginannya sih, keamanan kami dari perusahaan agar lebih diperhatikan apalagi kami perempuan,” ungkapnya.

Fera Kurniawati (25), ojol perempuan anggota Kartini Jember asal Dusun Klungkung Krajan, Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi juga menyampaikan harapan yang senada.

Ia memberanikan diri melawan stigma dengan menjadi pengemudi ojol perempuan. Hal itu ia lakukan sejak ditinggal suami beberapa tahun silam.

“Saya janda satu orang anak. Sehari-hari ya bekerja ngojek online ini. Karena kondisi, anak saya sering ikut saya ngojek. Ya bagaimana lagi, karena di rumah tidak ada yang jaga, juga gak bisa ditinggal. Jadi sambil bekerja saya ajak,” kata Fera.

“Paling sedih itu kalau saat hujan gitu dapat orderan penumpang terus dibatalin. Padahal saya sudah jalan. Ya gimana lagi. Tapi kalau hujan, anak gak saya ajak. Tapi kalau tidak hujan ya saya ajak, juga kepikiran kalau masuk angin. Ya dipakaikan jaket itu,” sambungnya.

IMG 20250421 202113
Lesly Novitasari (kiri) bersama rekan-rekannya sesama anggota ojol perempuan yang tergabung dalam Kartini Jember. (Foto: Adi Permana/ tagarjatim.id)

Kondisi sebagai seorang single parent (orang tua tunggal) membuatnya selalu khawatir akan kondisi sang anak.

“Tapi alhamdulillah selama bekerja ini baik-baik saja, tidak ada masalah. Tapi ya semoga niat bekerja ini lebih baik, juga perlindungan bagi kami driver perempuan ini. Dapat perhatian khusus,” pungkasnya. (*)

iklan ucapan selamat hari bhayangkara dari tagarjatim.id
WhatsApp Image 2026-07-01 at 13.22.33