Jember, tagarjatim.id – Guru besar atau profesor menjadi jabatan akademik tertinggi dalam dunia perguruan tinggi. Jabatan tersebut juga diikuti oleh tanggung jawab amanah yang berat. Pesan ini yang dikemukakan Rektor Universitas Jember (Unej), Iwan Taruna saat mengukuhkan 6 guru besar baru di kampus Tegalboto, julukan kampus tersebut.
“Menjadi profesor artinya menerima tanggung jawab yang besar karena masyarakat menunggu karya inovatif selanjutnya, sekaligus berharap profesor turut memberikan solusi bagi beragam permasalahan bangsa. Profesor harus menjadi contoh baik di kampus maupun di lingkungan yang lebih luas,” tutur Iwan Taruna dalam pengukuhan yang digelar di gedung Auditorium UNEJ pada Kamis (17/4/2025).
Jabatan akademik sebagai profesor, menurut Iwan juga diimbangi dengan tanggung jawab untuk senantiasa menjaga kejujuran dan konsistensi menjaga marwah akademik. Ia juga berpesan agar para guru besar tersebut tetap dan makin produktif berkarya usai pengukuhan.
“Meraih jabatan profesor bukan akhir namun awal perjuangan baru dan tantangan menjadi pembelajar seumur hidup yang merupakan ciri khas seorang ilmuwan,” papar mantan Dekan Fakultas Teknologi Pangan (FTP) Unej ini.
Mereka yang dikukuhkan hari itu adalah Prof. Agus Trihartono, S.Sos., M.A., Ph.D., Guru Besar bidang Diplomasi Program Studi Hubungan Internasional FISIP. Prof. Dr. Apt. Yudi Wicaksono, S.Si., M.Si., Guru Besar bidang Farmasetika Bahan Obat Padat Farmasi Fakultas Farmasi. Prof. Dra. Hari Sulistiyowati, M.Sc., Ph.D., Guru Besar bidang Valuasi Ekologi Program Studi Biologi FMIPA.
Selanjutnya Prof. Dr. Sukatman, M.Pd., Guru Besar bidang Tradisi Lisan dan Pembelajarannya Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP. Prof. Dr. Ir. Jojok Widodo Soetjipto, S.T., M.T., Guru Besar bidang Manajemen Konstruksi Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik. Dan Prof. Dr. Sutisna, S.Pd., M.Si., Guru Besar bidang Fisika Material Fotokatalis Program Studi Fisika FMIPA.
Prof. Agus Trihartono mengawali orasi ilmiah dengan judul “Soft Power : Menguatkan Peran Indonesia di Panggung Dunia”. Dalam orasinya pakar diplomasi ini memaparkan perubahan besar di dunia diplomasi yakni dari perspektif hard power yang menggunakan kekuatan militer dan atau ekonomi, beralih ke perspektif soft power seperti budaya, nilai-nilai dan kebijakan. Dari yang bersifat memaksa menjadi mengajak.
“Indonesia memiliki modal soft power-nya sebagai alat memperkuat peran di panggung dunia. Sebab Indonesia memiliki kekayaan budaya dari seni hingga kuliner. Indonesia juga dikenal dengan masyarakatnya yang ramah dan mayoritas menganut Islam moderat,” jelas Prof. Agus Trihartono.
Dilanjutkan dengan orasi kedua dari Prof. Yudi Wicaksono yang menjelaskan bahwa 90 persen bahan baku obat masih diimpor. Kondisi ketergantungan terhadap impor bahan baku obat tersebut tentu saja menjadi tantangan yang harus dicari solusinya dalam rangka untuk mencapai kemandirian nasional dalam pemenuhan bahan baku obat.
Guru besar asli Banyuwangi ini lantas menawarkan inovasi bahan aktif farmasi (BAF) yang lebih mudah larut dalam air seperti judul orasi ilmiahnya yakni “Modifikasi Padatan Untuk Peningkatan Kelarutan Bahan Aktif Farmasi”.
Bahasan mengenai valuasi ekologi (VE) menjadi tema utama orasi ilmiah Prof. Hari Sulistiyowati dari Program Studi Biologi FMIPA UNEJ. Menurutnya melalui pendekatan valuasi ekologi, nilai biodiversitas dipandang sebagai interaksi antara nilai intrinsik (yang melekat pada makhluk hidup, seperti bentuk tanduk banteng atau warna mawar) dan nilai ekstrinsik (yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti salinitas air atau jenis substrat tempat tumbuh).
“VE berperan penting dalam menilai biodiversitas sebagai modal alami yang bernilai tinggi. Semisal penelitian saya di Biosite Hutan Pelangi Ijen Geopark, Jawa Timur, nilai ekologi biodiversitas pohon di kawasan ini mencapai 193,84 miliar rupiah per hektar,” ujar Prof. Hari Sulistiyowati yang membawakan orasi berjudul “Valuasi Ekologi Dalam Menjaga Nilai Biodiversitas dan Ekosistem di Era Perubahan Global”.
Orasi keempat disampaikan Prof. Sukatman yang menulis orasi ilmiah berjudul “Tradisi Lisan Nusantara dan Kontribusinya Bagi Ketahanan Nasional dan Pendidikan Era Persaingan Antar Bangsa”. Pria asal Blitar ini berusaha mencari jawaban atas pertanyaan, siapakah sejatinya pendiri Nusantara ini pada zaman purba berdasarkan sudut pandang tradisi lisan secara etnografi kritis.
Giliran selanjutnya adalah Prof. Jojok Jojok Widodo Soetjipto dengan orasi ilmiah “Inovasi dan Transformasi Menuju Manajemen Konstruksi Modern”. Prof. Jojok banyak mengulas bagaimana manajemen kostruksi modern dapat membantu percepatan pembangunan infrastuktur sekaligus mengurangi malpraktek di bidang konstruksi.
Terakhir adalah giliran Prof. Sutisna dengan orasi ilmiah berjudul “Inovasi Material Fotokatalis Untuk Remediasi Lingkungan”.
Inovasi yang diajukan oleh Porf. Sutisna adalah penggunaan material fotokatalis guna mengatasi pencemaran air. Caranya dengan menggunakan fotokatalis semikonduktor, terutama titanium dioksida (TiO₂). TiO₂ dikenal memiliki kemampuan untuk menghasilkan radikal bebas yang sangat reaktif ketika terkena sinar UV, yang dapat mendegradasi senyawa-senyawa organik berbahaya hingga menjadi produk akhir yang tidak beracun. (*)






















