Kota Batu, Tagarjatim.id – Pemerintah Kota Batu mulai mengambil langkah strategis untuk memulihkan fungsi konservasi kawasan hulu Bumiaji, menyusul banjir luapan Kali Krecek yang kembali terjadi beberapa waktu lalu.
Wali Kota Batu, Nurochman, menegaskan bahwa penanganan banjir tidak bisa hanya berfokus pada wilayah hilir, melainkan harus menyasar akar persoalan di kawasan hulu.
“Penanganan tidak boleh parsial. Kalau hanya memperbaiki di hilir tanpa membenahi hulu, maka persoalan banjir akan terus berulang,” tegasnya dalam pertemuan bersama BPBD dan DPUPR di Rumah Dinas Wali Kota, Sabtu (11/4/2026).
Berdasarkan data lapangan, banjir yang melanda wilayah Tulungrejo dan Punten pada 30 Maret 2026 dipicu oleh alih fungsi lahan hutan seluas 109,188 hektare menjadi pertanian hortikultura semusim.
Kondisi tersebut memicu erosi tinggi di lahan miring yang berdampak pada sedimentasi sungai mencapai 97.107 meter kubik per tahun. Akibatnya, terjadi pendangkalan sungai yang meningkatkan risiko banjir.
Menjawab kondisi tersebut, Nurochman mendorong transformasi pola tanam di kawasan hulu dengan tetap memperhatikan keberlanjutan ekonomi petani.
“Kita akan memfasilitasi petani untuk beralih ke tanaman tegak bernilai ekonomi tinggi seperti kopi dan kakao. Akar tanaman ini mampu mengikat tanah dan menekan erosi, sehingga fungsi konservasi bisa kembali,” jelasnya.
Ia memastikan kebijakan ini tidak akan merugikan petani, melainkan justru membuka peluang ekonomi yang lebih berkelanjutan.
“Petani tetap bisa berpenghasilan, bahkan dengan nilai ekonomi yang lebih baik, sekaligus menjaga lingkungan,” imbuhnya.
Selain itu, Wali Kota juga menyoroti pentingnya penegakan tata ruang di wilayah rawan bencana. Ia menginstruksikan audit menyeluruh terhadap izin usaha, termasuk evaluasi bangunan komersial yang berpotensi menimbulkan risiko.
“Penegakan aturan tata ruang harus tegas. Kepatuhan terhadap analisis risiko bencana adalah harga mati. Jika ada pelanggaran yang berdampak pada bencana, harus ada tindakan tegas,” ujarnya.
Di sisi hilir, Pemkot Batu juga akan melakukan normalisasi sungai secara masif untuk mengembalikan kapasitas tampung air. Selain itu, penyusunan blueprint drainase kota terintegrasi juga tengah disiapkan sebagai langkah jangka panjang.
Pemerintah juga akan memperkuat peran masyarakat melalui edukasi dan simulasi kebencanaan di tingkat desa, khususnya di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi seperti Desa Tulungrejo.
“Kita tidak boleh membiarkan kondisi ini berlarut. Penanganan banjir Kali Krecek harus tuntas dari hulu hingga hilir,” tegas Nurochman.
Ia optimistis, dengan kombinasi perbaikan infrastruktur dan pemulihan ekosistem melalui tanaman tegak, keseimbangan lingkungan di Kota Batu dapat kembali terjaga.
“Dengan langkah ini, kita tidak hanya mengurangi risiko bencana, tetapi juga memastikan kesejahteraan petani tetap terjaga,” pungkasnya.(*)


























