Kota Batu, Tagarjatim.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Batu mulai menggenjot langkah penyelamatan komoditas apel yang kian tergerus alih fungsi lahan. Kondisi ini dinilai menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan salah satu ikon daerah tersebut.
Wali Kota Batu, Nurochman, menegaskan bahwa apel bukan hanya komoditas pertanian, melainkan bagian dari identitas Kota Batu yang harus dipertahankan di tengah berbagai tekanan.
“Apel Batu ini bukan sekadar komoditas ekonomi, tapi juga identitas daerah. Ini yang harus kita jaga bersama,” tegasnya, Sabtu (11/4/2026).
Data menunjukkan, luas lahan apel di Kota Batu mengalami penyusutan signifikan dari sekitar 3.000 hektare pada era 1980-an menjadi hanya sekitar 700 hektare pada 2024. Penurunan ini dipicu oleh alih fungsi lahan, perubahan pola tanam, hingga tekanan ekonomi di sektor pertanian.
Di sisi lain, pertumbuhan sektor pertanian yang masih berada di kisaran 1,5 persen menunjukkan perlunya intervensi kebijakan yang lebih konkret untuk menjaga produktivitas sekaligus keberlanjutan sektor tersebut.
“Kita perlu mendorong produktivitas melalui inovasi, pendampingan, serta penguatan kelembagaan petani agar sektor ini tetap bertahan,” ujar Nurochman.
Sejumlah persoalan turut menjadi sorotan, mulai dari keterbatasan infrastruktur pertanian, akses terhadap pupuk bersubsidi, hingga kebutuhan penguatan koperasi dan penyediaan bibit unggul.
Ketua Kelompok Tani Maju 01 Desa Tulungrejo, Suherman, mengungkapkan bahwa petani masih berupaya mempertahankan budidaya apel meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan.
“Permodalan, infrastruktur, dan sarana produksi masih menjadi kendala utama. Tapi kami tetap berusaha mempertahankan apel,” ujarnya.
Dalam praktiknya, sebagian petani mulai mengembangkan pola tanam alternatif dengan komoditas lain seperti jeruk untuk menjaga kestabilan pendapatan di tengah ketidakpastian hasil apel.
Meski demikian, apel jenis Anna dan Manalagi masih menjadi andalan yang terus dipertahankan oleh petani di wilayah Bumiaji.
Menjawab tantangan tersebut, Pemkot Batu mendorong sejumlah langkah strategis. Di antaranya penguatan koperasi pertanian, peningkatan kualitas dan ketersediaan bibit unggul, serta pengembangan sistem tumpangsari untuk meningkatkan efisiensi lahan.
Selain itu, perbaikan infrastruktur pendukung seperti jalan usaha tani juga menjadi bagian dari upaya memperkuat sektor pertanian dari hulu.
“Kita ingin apel Batu tetap hidup, tetap memiliki daya saing, dan tetap memberikan manfaat ekonomi bagi petani,” tegas Nurochman.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan petani dalam menjaga keberlanjutan komoditas apel di tengah dinamika perubahan lahan dan pasar.
“Kalau tidak dijaga bersama, bukan tidak mungkin ke depan apel hanya tinggal nama. Ini yang harus kita antisipasi sejak sekarang,” pungkasnya.(*)


























