Jember, tagarjatim.id – Anjloknya harga tetes tebu di musim giling atau panen tahun ini membuat para teni tebu di Jember dan sekitarnya menjerit. Melalui Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) Pabrik Gula Glenmore (PG Glenmore), mereka berkirim surat ke DPR RI dan Kementerian Perdagangan.

Dalam aspirasinya, mereka meminta agar pemerintah segera turun tangan terkait anjloknya harga tetes tebu di tingkat petani. Surat yang sama dikirim ke Holding Sugar Group -induk BUMN yang membawahi sejumlah pabrik gula di Indonesia.

“Kita menyampaikan aspirasi dan jeritan petani tebu yang prihatin karena harga tetes tebu terjun bebas, lebih dari separuh. Kalau tahun 2024 kemarin, harga tetes tebu laku antara Rp 2 ribu hingg Rp 3 ribu per kilogram, sekarang sejak awal Mei sampai Juni 2025, hanya laku Rp 1 ribu per kilogram,” ujar Siswono, Ketua APTR PG Glenmore kepada wartawan Tagarjatim.id pada Minggu (15/06/2025).

Mengacu pada visi kedaulatan pangan yang dituangkan Presiden Prabowo melalui Asta Cita lewat Peraturan Presiden (Perpres) No. 40 Tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Nasional, petani seharusnya juga mendapat proteksi.

Melalui campur tangan pemerintah, APTR PG Glenmore berharap Mereka berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap nasib petani tebu, terutama dalam hal penetapan harga yang adil dan berkelanjutan.

“Tidak hanya petani padi, petani tebu kan juga bagian dari ketahanan pangan,” imbuh Siswono.

Menurutnya, PG Glenmore sebenarnya merupakan pabrik gula yang relatif baru berdiri dengan perangkat teknologi yang lebih canggih sehingga bisa membeli tebu para petani dengan lebih baik. Namun kondisi pasar saat ini benar-benar dikeluhkan.

“Informasi yang kami tangkap -meski ini informasi yang belum jelas juga-, ini ada permainan elit. Tapi elit siapa, kita belum tahu. Karena anjloknya lebih dari 50 persen, kita berharap agar Komisi VI DPR yang juga membawahi BUMN, agar bisa mencarikan solusi,” tutur pria yang juga politikus Partai Gerindra ini.

Pihak APTR PG Glenmore sebelumnya juga sudah menggelar rapat dengan manajemen PG Glenmore terkait anjloknya harga jual tetes tebu ini. Para petani tidak punya pilihan kecuali tetap menjual tetes tebu tersebut kepada PG Glenmore.

“Karena tetes tebu ini kalau disimpan lama, kualitasnya akan menurun. Bisa-bisa tidak sampai Rp 1 ribu per kilogram kalau terlalu lama disimpan, sehingga terpaksa para petani tetap menjualnya,” ungkap Siswono.

Jika pemerintah dan DPR tidak segera mencarikan jalan keluar atas anjloknya harga tetes tebu, APTR PG Glenmore khawatir akan memicu permasalahan di akar rumput.

“Jangan sampai ada spekulan yang bermain di masalah tetes tebu ini. Karena tetes tebu ini kan bisa untuk macam-macam produk, seperti bioetanol dan sebagainya,” tutur Siswono.

“Jangan sampai terjadi situasi tidak kondusif sehingga petani melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan. Ini situasi yang dilematis memang,” sambung pria yang juga anggota DPRD Jember ini.

Jika harga tetes tebu dibiarkan anjlok melebihi kewajaran, APTR PG Glenmore khawatir hal ini bisa mengganggu produksi dan semangat petani dalam menanam komoditas tebu.

“Dengan dukungan yang tepat dari pemerintah dan DPR, diharapkan petani tebu dapat kembali berproduksi dengan baik dan mendapatkan harga yang layak untuk hasil kerja keras mereka,” pungkas Siswono. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H