Jombang, Tagarjatim.id – Kualitas udara di Kabupaten Jombang terindikasi tercemar mikroplastik jenis fiber dan film. Temuan tersebut merupakan hasil penelitian Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan (Ecoton) yang dilakukan di sejumlah titik wilayah Jombang. Paparan mikroplastik di udara dinilai berbahaya karena dapat masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan serius.

Kepala Laboratorium Ecoton, Rafika Aprilianti, mengatakan pencemaran mikroplastik di udara terdeteksi dari hasil pengambilan sampel di tiga lokasi, yakni kawasan Lapas Jombang, Polres Jombang, serta lingkungan Madrasah Al Hikam, Desa Jatirejo, Kecamatan Diwek. Seluruh sampel yang diuji di laboratorium menunjukkan kandungan mikroplastik.

“Alat kami pasang di beberapa titik berbeda dan hasilnya sama, semuanya mengandung mikroplastik. Artinya, udara di ruang publik dan lingkungan pendidikan sudah terpapar partikel ini,” kata Rafika saat memberikan edukasi lingkungan kepada siswa Madrasah Al Hikam, Senin (20/1/2026).

Rafika menjelaskan, mikroplastik berukuran sangat kecil sehingga mudah terhirup dan masuk ke dalam tubuh manusia. Berbeda dengan sel tubuh yang bersifat halus, partikel plastik memiliki tekstur kasar dan tidak dapat terurai secara alami.

“Ketika masuk ke tubuh, mikroplastik dapat menggores jaringan sel dan memicu peradangan. Dampaknya bisa mengganggu hormon insulin yang berkaitan dengan diabetes, serta hormon reproduksi,” ujarnya.

Menurut Ecoton, paparan mikroplastik di udara menjadi ancaman baru bagi kesehatan masyarakat karena tidak disadari dan terjadi setiap hari. Anak-anak dan remaja menjadi kelompok rentan karena intensitas aktivitas di luar ruangan yang tinggi.

Edukasi tersebut mendapat perhatian dari para siswa. Salah satu siswa Madrasah Al Hikam, Asyifa Nabila, mengaku terkejut mengetahui bahwa mikroplastik ada di udara yang mereka hirup setiap hari.

“Kami jadi lebih sadar dan ingin mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Ke depan kami akan beralih ke botol minum yang lebih aman seperti stainless atau kaca,” ujarnya.

Pihak sekolah menyatakan akan menindaklanjuti edukasi tersebut dengan mengampanyekan pengurangan plastik, baik di lingkungan madrasah maupun kepada masyarakat sekitar. Guru Madrasah Al Hikam, Maftuhah Mustiqowati, menilai isu mikroplastik di udara perlu menjadi perhatian bersama.

“Selama ini orang fokus pada air dan sampah, padahal udara juga sudah tercemar. Ini harus menjadi gerakan bersama,” katanya.

Ecoton menyebutkan, salah satu sumber utama mikroplastik di udara berasal dari pembakaran sampah plastik serta penggunaan plastik sekali pakai, termasuk botol minuman. Tanpa perubahan perilaku dan pengelolaan sampah yang lebih baik, pencemaran mikroplastik di udara dikhawatirkan terus meningkat. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H