Kota Malang, Tagarjatim.id – Peringatan Isra Mi’raj tidak hanya menjadi agenda keagamaan tahunan, tetapi juga momentum refleksi bagi mahasiswa untuk menata kembali arah hidup di tengah tekanan akademik. Salah satu pesan penting dari peristiwa Isra Mi’raj yang kerap luput dibahas adalah bagaimana shalat seharusnya menjadi pengatur ritme kehidupan manusia.
Hal tersebut disampaikan I’anatut Thoifah, M.Pd.I., dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menurutnya, Isra Mi’raj bukan sekadar perjalanan Nabi Muhammad SAW dari bumi ke langit, melainkan pesan spiritual tentang penguatan diri di saat manusia berada pada titik terendah.
“Isra Mi’raj terjadi ketika Rasulullah berada di fase paling berat secara psikologis. Ini menunjukkan bahwa ketika manusia berada di titik paling lemah, Allah justru menguatkan dengan pendekatan spiritual,” ujar I’ana saat diwawancarai tim Humas UMM, Rabu (14/1/2026).
Ia menilai pesan tersebut sangat relevan dengan kondisi mahasiswa saat ini. Tekanan akademik, kecemasan terhadap masa depan, hingga kelelahan mental kerap tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan akademik atau materiil. Spiritualitas, menurutnya, menjadi sumber ketenangan yang sering kali terabaikan.
Lebih lanjut, I’ana menjelaskan bahwa keistimewaan Isra Mi’raj terletak pada ditetapkannya satu ibadah utama, yakni shalat. Berbeda dengan ibadah lain yang disampaikan melalui wahyu, shalat justru “dijemput” langsung oleh Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Mi’raj.
“Shalat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan tanpa perantara Malaikat Jibril. Ini menunjukkan betapa pentingnya shalat dalam kehidupan seorang muslim,” jelas dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) tersebut.
Menurutnya, shalat tidak hanya dimaknai sebagai ritual, tetapi juga sebagai sistem pengelolaan waktu yang relevan dengan kehidupan mahasiswa. Lima waktu shalat membentuk pola hidup teratur dan berbasis nilai. “Shalat adalah siklus manajemen waktu paling lengkap: plan–do–check–reflect–reset,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dalam kehidupan mahasiswa yang kerap terjebak pada kesibukan tanpa jeda, shalat justru berfungsi sebagai penyeimbang. Bukan mengurangi produktivitas, melainkan membantu menjaga fokus, ketenangan, dan kesadaran diri.
I’ana kemudian memaknai setiap waktu shalat sebagai tahapan pengelolaan hidup. Subuh mengajarkan perencanaan dan niat, Dzuhur menjadi ruang evaluasi aktivitas, Ashar menumbuhkan kesadaran akan keterbatasan waktu, Maghrib sebagai momen refleksi, dan Isya menjadi saat penyerahan diri sekaligus pemulihan batin.
Dalam konteks pembentukan karakter mahasiswa, nilai Isra Mi’raj dan shalat dinilai memiliki peran strategis. Isra Mi’raj memberikan orientasi hidup bahwa kuliah bukan sekadar mengejar indeks prestasi, tetapi bagian dari perjalanan menuju tujuan yang lebih bermakna. Sementara shalat menjadi ruang jeda di tengah tekanan akademik.
“Prestasi diraih melalui usaha dan kesungguhan, bukan jalan pintas. Nilai spiritual menjadi penguat agar mahasiswa tetap jujur, bertanggung jawab, dan berintegritas,” tegasnya.
Ia pun berpesan agar shalat benar-benar dijadikan kompas kesadaran hidup mahasiswa. Di tengah kehidupan kampus yang semakin kompetitif, shalat menjadi pengingat agar tetap berjalan di jalur yang benar.
“Shalat bukan sekadar kewajiban ritual yang berhenti di atas sajadah, tetapi kompas kesadaran yang menuntun sikap dan perilaku dalam nilai-nilai yang penuh keberkahan,” pungkasnya. (*)




















