Sidoarjo, Tagarjatim.id – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Porong meresmikan sarana asimilasi dan edukasi melalui pembukaan lahan pertanian seluas 5.860 meter persegi, Senin (hari ini). Lahan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan tersebut kini diaktifkan untuk mendukung program ketahanan pangan nasional.
Peresmian ini merupakan bagian dari dukungan terhadap program Presiden Republik Indonesia serta Program 15 Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan di bidang ketahanan pangan. Pada tahap awal, Lapas Porong menanam jagung manis dengan total bibit sebanyak dua kilogram.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur, Kadiyono, mengatakan bahwa seluruh insan pemasyarakatan dituntut untuk memaksimalkan potensi lahan yang dimiliki guna mendukung ketahanan pangan nasional.
“Setiap lapas dan rutan yang memiliki lahan harus mampu memanfaatkannya secara optimal. Lahan yang sebelumnya tidur harus dibangkitkan dan digunakan untuk mendukung program Presiden serta program Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan,” ujarnya, Selasa (13/01/2026).
Dengan luasan lahan 5.860 meter persegi tersebut, hasil panen jagung manis diperkirakan mencapai sekitar 2,5 ton dalam waktu tiga bulan ke depan. Kadiyono menambahkan, program serupa juga dilaksanakan di berbagai lapas dan rutan di Jawa Timur dengan komoditas yang disesuaikan dengan potensi daerah masing-masing.
“Di Lapas Kelas I Malang ditanami edamame, Bojonegoro menanam padi, Banyuwangi menanam semangka, sementara lapas lainnya seperti Lamongan, Kediri, dan Ngawi juga memiliki program ketahanan pangan masing-masing. Ini bentuk kolaborasi untuk mendukung keanekaragaman pangan di Jawa Timur,” jelasnya.
Menurut Kadiyono, program ketahanan pangan di Lapas Porong resmi dimulai pada tahun ini, sementara lapas dan rutan lainnya di Jawa Timur telah lebih dahulu menjalankan program serupa. Seluruhnya memiliki semangat yang sama, yakni menyukseskan program pemerintah dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, warga binaan yang telah memenuhi syarat asimilasi turut dilibatkan dan diberikan edukasi serta pelatihan kemandirian.
“Ini adalah sarana asimilasi dan edukasi. Warga binaan diberikan contoh dan pelatihan yang baik agar pola pikir mereka berubah menjadi lebih produktif dan mandiri,” tambahnya.
Hasil panen nantinya akan dimanfaatkan sesuai arahan pemerintah. Jika terdapat kelebihan hasil produksi, sebagian akan dibagikan kepada masyarakat sekitar. Program ini juga mendapat dukungan dari unsur Muspika dan pemerintah desa setempat sebagai bentuk sinergi antara lapas dan lingkungan sekitar.
Melalui kegiatan ini, Lapas Kelas I Porong diharapkan dapat memberikan manfaat tidak hanya bagi warga binaan dan petugas, tetapi juga bagi masyarakat sekitar serta berkontribusi dalam memperkuat ketahanan pangan di Jawa Timur. (*)





















