Lamongan, Tagarjatim.id — Banjir akibat luapan Sungai Bengawan Jero di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, semakin memprihatinkan. Seluruh akses jalan menuju permukiman warga dan sekolah terendam banjir, memaksa para pelajar menerjang genangan air bahkan menggunakan perahu untuk berangkat dan pulang sekolah.
Kondisi tersebut dialami para siswa di Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU Khozainul Ulum, Desa Bojoasri, Kecamatan Kalitengah. Sejak banjir melanda wilayah itu selama hampir satu bulan terakhir, jalan yang biasanya masih bisa dilalui kendaraan roda dua kini tidak dapat dilewati sama sekali.
Akibatnya, sejumlah siswa terpaksa menggunakan perahu sebagai sarana transportasi menuju sekolah. Sementara siswa yang rumahnya berjarak dekat tetap nekat berjalan kaki menembus banjir, meski seragam yang dikenakan basah kuyup.
“Kalau tidak berangkat sekolah, takut ketinggalan pelajaran. Walaupun jalannya banjir dan licin, kami tetap berangkat,” ujar Naufal Labiba, salah satu siswa.
Para siswa harus mempertaruhkan keselamatan mereka setiap hari dengan melewati jalanan licin dan genangan air yang cukup dalam. Kondisi ini diperparah dengan arus air yang tidak menentu dan minimnya jalur alternatif.
Dalam sepekan terakhir, banjir disebut semakin parah hingga akses jalan sama sekali tidak bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Warga memperkirakan banjir akan berlangsung cukup lama karena aliran Sungai Bengawan Jero tidak dapat mengalir deras ke Sungai Bengawan Solo.
Hal tersebut disebabkan tingginya permukaan air Sungai Bengawan Solo yang saat ini lebih tinggi dibandingkan Sungai Bengawan Jero, sehingga aliran air tertahan dan meluap ke wilayah permukiman serta fasilitas umum, termasuk sekolah.
Warga berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah penanganan agar aktivitas masyarakat, khususnya pendidikan anak-anak, tidak terus terganggu akibat banjir berkepanjangan.(*)





















