Jember, tagarjatim.id – Diplomasi tak hanya sekedar urusan meja perundingan formal. Semangat itulah yang dibawa oleh Agus Trihartono.

Selama beberapa tahun terakhir, staf pengajar jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember (UNEJ) ini tekun menggeluti kajian seputar diplomasi.

Ketekunan itu pula yang membawanya dikukuhkan sebagai Guru Besar di bidang Diplomasi di kampusnya mengajar.

“Diplomasi bukan semata sebuah disiplin ilmu, tetapi juga seni dan strategi untuk menciptakan harmoni dalam keberagaman pemikiran maupun kepentingan. Kajian diplomasi tidak hanya penting, tetapi juga esensial dalam memahami dan merespons kompleksitas dunia yang terus berubah,” ujar Prof. Agus, yang mulai menekuni soft power dalam diplomasi saat menempuh studi doktoral dan post doc di Ritsumeikan University, Kyoto, Jepang.

Sebelumnya, ia juga merampungkan studi master di kampus yang sama.

“Kyoto, tempat saya menghabiskan sebagian besar waktu menempuh S2, S3, Post-Doctoral, dan menjalani peran sebagai peneliti, saya menemukan atmosfer dan vibes yang berbeda dan unik. Saya bertemu dengan cara pandang dan beragamnya ‘lensa’ dalam melihat HI, membuka mata dan hati saya untuk melihat kompleksitas, sekaligus keindahannya,” sambungnya saat menyinggung suasana tempat ia kuliah dulu.

Agus menyebut diplomasi sebagai “mata air yang nyaris tidak pernah kering”, karena terus berevolusi dan kini menjangkau ranah digital, budaya, bahkan lingkungan.

Dalam pidato orasi ilmiahnya yang berjudul “Soft Power: Menguatkan Peran Indonesia di Panggung Dunia”, Agus menekankan keyakinannya tentang pentingnya penguatan dimensi soft power Indonesia bagi peran yang lebih signifikan dalam hubungan internasional.

Melalui konsep yang dikembangkan oleh Joseph Nye, menyoroti pentingnya kekuatan budaya, diplomasi, dan integritas moral sebuah negara dalam membangun hubungan internasional yang harmonis serta mempengaruhi tindakan negara lain secara positif.

“Soft power memberikan dimensi yang berbeda, yang lebih humanis dan universal,” jelasnya, sambil menambahkan bahwa Indonesia punya semua modal besar untuk memainkan peran ini secara strategis.

Diplomasi publik dan gastrodiplomasi menjadi perhatian khusus bagi pria asal Banyuwangi ini. Pengalamannya selama di Jepang, termasuk mengikuti International Food Festival dan memperkenalkan makanan Indonesia seperti tumpeng, tempe, hingga klepon di berbagai acara budaya, memperkuat keyakinannya akan potensi besar diplomasi berbasis kuliner.

“Kuliner bukan hanya sekadar suguhan, tetapi juga medium untuk menyampaikan pesan budaya, membangun keakraban, dan menumbuhkan penghargaan lintas bangsa,” ungkapnya.

Lebih jauh, Prof. Agus juga menyuarakan keresahan atas kondisi Indonesia yang kerap terjebak dalam fenomena “scarcity in plenty” kekurangan di tengah kelimpahan.

“Indonesia perlu lebih serius mengidentifikasi, memahami, dan mengoptimalisasi kekuatan lunaknya. Sebagai sebuah negara dengan kekayaan budaya, sejarah, dan nilai-nilai yang unik, Indonesia memiliki peluang besar menjadi aktor penting dalam diplomasi berbasis soft power,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa semua harus dimulai dari mencintai bangsa sendiri, walk the talk, tegak lurus antara ucapan dengan perbuatan.

Ketekunannya pada dunia riset -khususnya di bidang soft power dalam diplomasi- membuat ia dipercaya untuk mendirikan Centre for Gastrodiplomacy Studies.

Agus juga memperkenalkan mata kuliah Gastrodiplomasi, serta mendirikan jurnal akademik Indo-Pacific Journal of Soft Power. Ia juga menjadi bagian dari tim penyusunan Grand Strategi Soft Power Indonesia dari Kementerian Luar Negeri RI pada tahun 2020

Menutup pesannya, Prof Agus menegaskan bahwa Indonesia punya modal yang kuat untuk tumbuh menjadi negara yang besar secara diplomasi.

“Kekuatan sejati bukanlah tentang siapa yang paling kuat secara fisik, tetapi siapa yang mampu menyentuh hati. Indonesia memiliki segala yang dibutuhkan untuk menjadi bangsa yang dihormati, bangsa yang dicintai.

Kini, tugas kita adalah memastikan bahwa daya tarik itu tidak hanya menjadi narasi, tetapi juga menjadi realitas yang hidup dalam setiap aspek kehidupan kita,” tutur akademisi yang sempat menjadi Rektor Universitas Islam Cordoba (UI Cordoba) Banyuwangi ini.

“Mari kita wujudkan Indonesia sebagai kekuatan lunak yang memimpin dunia dengan kearifan dan kedamaian,” pungkas Agus. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H