Jember, tagarjatim.id – Tanggal 24 April di setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Angkutan Nasional (Harkutnas). Penetapan Hari Angkutan Nasional ini merujuk pada berdirinya Jawa Unyu Zidousha dan Zidousha Sokyoku pada tahun 1943 yang sekarang dikenal perusahaan bus DAMRI.
Di berbagai daerah, Harkutnas diperingati pemerintah daerah dengan mempromosikan angkutan umum agar kembali dimiati oleh masyarakat. Namun, nasib miris tetap dirasakan oleh sopir angkutan umum atau kerap disebut angkot di Jember.
Rahmat, sopir angkot Lin (sebutan warga Jember untuk angkutan umum dalam kota berwarna kuning) mengaku nasibnya kian memprihatinkan. Selama lebih dari 20 tahun terakhir, ia mengaku profesi sopir angkot lin terus terpuruk tanpa ada perhatian dari pemerintah.
“Sejak orang mudah beli motor pribadi, maka semakin jarang naik lin. Kita pendapatan terus menurun. Seringkali tidak dapat pemasukan sama sekali, habis di bensin. Tekor malah,” ujarnya dengan nada lirih saat ditemui tagarjatim.id pada Kamis (24/04/2025).
Ia mengaku mengemudikan angkutan lin dengan sistem sewa bagi hasil kepada pemilik angkutan. Dalam sehari, paling banter atau maksimal ia bisa memperoleh pendapatan Rp 80 ribu.
“Tapi itu jarang sekali, hari-hari tertentu saja bisa dapat segitu,” papar Rahmat.
Pendapatan itu harus dikurangi biaya operasional berupa bensin yakni Rp 40 ribu sehari. Juga sewa kendaraan kepada pemilik sebesar Rp 30 ribu.
“Penumpang paling cuma 3 sampai 5 orang. Pelajar sekarang jarang ada yang naik angkot lin. Karena mereka lebih memilih naik ojek online atau bawa motor sendiri,” tuturnya.
Sehingga dalam sehari, Rahmat mengaku maksimal bisa memperoleh keuntungan bersih sebesar Rp 10 ribu.
“Lebih sering tekor malah,” tuturnya dengan nada pasrah.
Ia mengenang, pada masa pandemi lalu, menjadi masa-masa terburuk dalam hidupnya sebagai sopir angkot Lin yang sudah ia jalani lebih dari 40 tahun.
“Waktu itu sekolah di rumah. Nggak ada sama sekali yang naik angkot,” kenang pria yang tinggal di Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi ini.
Kini di usianya yang menginjak 70 tahun, Rahmat mengaku sebenarnya ingin meninggalkan pekerjaan sebagai sopir angkot Lin dan beralih ke profesi lain.
“Tapi mau ganti kerja lain, juga bingung mau kerja apa. Mau dagang juga belum ada modal. Untungnya anak-anak saya sudah kerja semua,” paparnya.
Rahmat mengaku, sebelumnya para sopir angkutan umum di Jember sempat merasa sangat terbantu dengan program angkutan gratis bagi pelajar dan umum. Program itu digulirkan oleh Pemkab Jember pada tahun 2024, pada masa akhir kepemimpinan bupati Hendy.
Namun, seiring dengan pergantian bupati, kebijakan itu tak lagi dilanjutkan.
“Kita berharap ada terobosan kebijakan dari pemerintah untuk membantu nasib sopir angkot seperti kita ini,” pungkasnya. (*)




















