Lamongan,Tagarjatim.id – Banjir yang merendam kawasan Bengawan Jero, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, selama lebih dari dua bulan mulai melumpuhkan perekonomian warga. Selain memutus akses mobilitas, banjir berkepanjangan ini juga memicu melonjaknya harga kebutuhan pokok akibat terhambatnya jalur distribusi logistik.

Kondisi terparah terjadi di Dusun Dukun, Desa Bojoasri, Kecamatan Lamongan. Hingga saat ini, seluruh akses jalan, permukiman warga, serta lahan pertanian di wilayah tersebut masih terendam banjir. Luapan Sungai Bengawan Jero yang tak kunjung surut membuat aktivitas warga sangat terbatas.

Terputusnya akses jalan antar desa memaksa warga dan pedagang mengandalkan perahu sebagai satu-satunya sarana transportasi. Tingginya biaya transportasi air berdampak langsung pada harga kebutuhan pokok yang dijual di wilayah terdampak.

Sejumlah komoditas utama seperti beras, minyak goreng, dan telur dilaporkan mengalami kenaikan harga antara Rp5.000 hingga Rp7.000 per item. Kondisi ini semakin memberatkan warga, mengingat sebagian besar masyarakat kehilangan sumber penghasilan akibat lahan pertanian yang terendam banjir.

“Sekarang semua mahal. Ongkos perahu naik, barang juga ikut naik. Warga semakin kesulitan,” ujar Suparjo, Kepala Dusun Dukun, saat ditemui di lokasi banjir.

Data sementara mencatat, sekitar 6.520 hektare lahan pertanian terendam banjir, menyebabkan ribuan petani gagal panen. Hingga saat ini, sebanyak 16.988 jiwa terdampak, dengan 4.752 rumah serta 87 lembaga pendidikan masih terendam banjir.

Warga berharap Pemerintah Kabupaten Lamongan segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi kondisi tersebut. Di antaranya melalui operasi pasar guna menstabilkan harga bahan pokok serta penyaluran bantuan logistik secara merata ke wilayah terdampak.

Langkah cepat dinilai sangat diperlukan untuk mencegah kelangkaan bahan pokok yang lebih parah serta menjaga daya beli masyarakat di tengah bencana banjir yang belum menunjukkan tanda-tanda surut.(*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H