Tagarjatim.id – Peristiwa Isra Mi’raj menjadi salah satu momentum paling penting dalam sejarah Islam. Dalam perjalanan tersebut, Nabi Muhammad SAW tidak hanya menempuh perjalanan fisik, tetapi juga mengalami perjalanan spiritual yang sarat makna bagi umat Islam hingga hari ini.
Setelah melewati Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad SAW bermunajat dan berdoa kepada Allah SWT. Perjalanan kemudian berlanjut menuju Baitul Makmur, rumah ibadah di langit ketujuh yang sejajar dengan Ka’bah di bumi. Dalam riwayat disebutkan, setiap hari sebanyak 70 ribu malaikat memasuki Baitul Makmur untuk melakukan thawaf dan tidak akan kembali lagi.
Di tempat itu, Nabi disuguhi tiga minuman, yakni arak, susu, dan madu. Nabi memilih susu, dan Malaikat Jibril menjelaskan bahwa susu melambangkan kemurnian dan fitrah, yang menjadi ciri khas Nabi Muhammad SAW dan umatnya.
Dalam peristiwa tersebut pula, Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat fardhu sebanyak 50 rakaat dalam sehari. Dalam perjalanan turun, Nabi bertemu Nabi Musa AS yang mengingatkan bahwa umat Nabi Muhammad tidak akan mampu menjalankan shalat sebanyak itu. Atas saran Nabi Musa, Nabi Muhammad kembali menghadap Allah SWT untuk memohon keringanan. Proses ini terjadi beberapa kali hingga akhirnya Allah menetapkan kewajiban shalat lima waktu sehari semalam.
Meski Nabi Musa kembali mengingatkan bahwa umat Muhammad masih akan merasa berat, Nabi Muhammad SAW menyatakan rasa malu untuk kembali memohon keringanan dan memilih ridha serta pasrah atas ketetapan Allah SWT.
Imam Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah menjelaskan bahwa keesokan harinya Nabi Muhammad SAW menyampaikan kisah Isra Mi’raj kepada kaum Quraisy. Sebagian besar dari mereka menolak dan mengingkari peristiwa tersebut. Bahkan, sebagian kecil kaum muslimin saat itu dilaporkan kembali murtad karena tidak mampu menerima kisah tersebut secara rasional.
Di tengah penolakan itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq tampil membela Nabi Muhammad SAW. Ia menyatakan kepercayaannya secara penuh terhadap kabar yang disampaikan Rasulullah. “Jika Muhammad yang mengatakannya, maka aku membenarkannya,” demikian makna sikap Abu Bakar yang kemudian membuatnya mendapat gelar Ash-Shiddiq, orang yang sangat jujur dan membenarkan kebenaran.
Sejarawan Islam Ali Muhammad Shalabi menyebut Isra Mi’raj mengandung pesan penguatan bagi Nabi Muhammad SAW yang saat itu tengah berada dalam masa duka setelah wafatnya Khadijah RA dan Abu Thalib. Allah SWT memperlihatkan kebesaran-Nya untuk meneguhkan hati Nabi dalam menjalankan misi dakwah.
Peristiwa Isra Mi’raj juga menegaskan kedudukan shalat sebagai sarana mi’raj spiritual umat Islam. Shalat yang khusyuk diyakini mampu membentuk pribadi yang berakhlak, menjauhkan diri dari keburukan, serta menumbuhkan kesadaran akan pengawasan Allah SWT.
Selain itu, perjalanan Isra Mi’raj dipandang sebagai simbol dorongan umat Islam untuk terus belajar dan berkembang, termasuk dalam bidang sains dan teknologi. Perjalanan Nabi ke langit dan kembali ke bumi menjadi inspirasi agar umat Islam tidak tertinggal dalam kemajuan peradaban.
Penyebutan Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha dalam peristiwa Isra Mi’raj juga menegaskan pentingnya Masjidil Aqsha sebagai bagian dari tempat suci umat Islam. Hal ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk terus peduli dan berjuang menjaga kesucian serta keselamatan Masjidil Aqsha sesuai kemampuan masing-masing.(*)




















