Sidoarjo, tagarjatim.id – Pemerintah pusat terus mempercepat upaya penanggulangan penyakit tuberkulosis (TBC) yang hingga kini masih menjadi penyebab kematian menular tertinggi di Indonesia. Dari data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, pertahunnya tercatat ada sekitar 1 juta kasus TBC baru dengan 136 ribu kematian.
“Setiap tahun, terdapat sekitar satu juta kasus dengan angka kematian mencapai 136 ribu jiwa,” ucap Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat ditemui selepas kegiatan di Umsida, Minggu (9/11/2025).
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, pemerintah tengah mempercepat penanganan TBC agar angka kematian bisa segera ditekan. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan pemeriksaan dan percepatan pengobatan di seluruh daerah.
Namun sayangnya gejala TBC yang diderita oleh warga dinilai sering mirip dengan batuk biasa, apalagi dalam melakukan tes dan juga pemeriksaan kepada penderita, memerlukan waktu lama dan fasilitas laboratorium yang masih terbatas.
“Kalau bisa cepat skrining atau cepat preventif, obatnya sebenarnya sudah ada, cuma nemuinnya penderitanya itu yang kadang-kadang susah, karena TBC itu susah buat dibedakan dengan batuk dan kalau mau di tes itu tesnya agak susah” ujarnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Kemenkes menyebut pada tahun 2027 mendatang, pihaknya akan meluncurkan alat tes baru yang lebih praktis, cepat dan akurat seperti rapid test Covid-19. Alat ini nantinya akan bisa dipergunakan di puskesmas atau klinik, tanpa harus dirujuk ke rumah sakit.
“Alatnya yang baru, kecil, portable dan tidak butuh laboratorium, nanti langsung bisa digunakan di puskesmas maupun klinik saja,” tambahnya.
Bahkan menurut Menkes, akurasi alat tes baru tersebut diklaim memiliki akurasi yang sama dengan alat laboratorium konvensional, dan sudah di uji coba di salah satu laboratorium di Jawa Barat.
Apalagi menurut Menkes, alat baru ini tidak akan memerlukan pengambilan dahak, dan hanya memerlukan pengambilan swab pada area mulut seperti halnya rapid test Covid-19.
“Alat ini akurasinya sama dengan hasil laboratorium konvensional, dan bagusnya alat ini tidak memerlukan pengambilan sampel dahak seperti biasanya, alat ini hanya diperlukan swab di area mulut seperti rapid test covid 19,” ungkapnya.
Inovasi tersebut menjadi bagian dari program One Stop Service (OSS), yaitu layanan skrining satu atap yang mencakup rontgen dada, nPOCT, dan TCM dalam satu kunjungan.
Program ini sendiri sudah di uji cobakan di delapan puskesmas di Bandung, Kota Bogor, dan Kota Semarang, bekerja sama dengan Universitas Padjadjaran (UNPAD) dan Bank Dunia.
“Tahun ini Kemenkes mulai melakukan pilot project di 100 titik dan akan dikembangkan ke delapan provinsi, termasuk Jawa Timur,” tambahnya.
Budi menambahkan, Jawa Timur menjadi salah satu daerah yang akan mendapatkan perluasan layanan tersebut. Saat ini, Jatim berada di posisi kedua tertinggi kasus TBC nasional dengan 116.538 kasus, di bawah Jawa Barat.
“Kalau skrining bisa cepat dan pengobatan dilakukan sedini mungkin, TBC ini bisa kita tekan jauh lebih cepat,” pungkasnya.(*)




















